TIMES SURABAYA, SURABAYA – Aktivitas seru untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional dilakukan Universitas Ciputra (UC) melalui kegiatan One Day Global Bonding.
Di antaranya coffee painting, city tour and traditional game, program ini mengajak partisipan dari 8 negara berbeda (Malaysia, Kenya, Zimbabwe, Malawi, Timor-Leste, Nigeria, Kazakhstan, dan Pakistan) untuk mengenal lebih dekat budaya Surabaya dan Indonesia.
Kegiatan One Day Global Bonding merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Ciputra Collaboration And Global Engagement Department (CaGE) dengan Airlangga Global Engangement Department (AGE), yang sama-sama berkomitmen membangun jejaring internasional di Surabaya.
“Lewat seni dan permainan, mahasiswa internasional tidak hanya belajar tentang Indonesia, tapi juga merasakan semangat kebersamaan khas Surabaya. Ini adalah bagian dari upaya UC untuk menjadikan kampus sebagai jembatan budaya dunia,” ujar Yoseva Maria Pujirahayu Sumaji, Head, Collaboration & Global Engagement Universitas Ciputra, Sabtu (30/8/2025).
Selain memperkenalkan Surabaya sebagai kota budaya melalui ikon-ikon sejarah dan kesenian, pihaknya juga ingin membangun interaksi lintas budaya antara mahasiswa Indonesia dan internasional dengan pendekatan kreatif.
"Tak hanya itu, kami juga mendukung positioning Surabaya sebagai kota global yang ramah mahasiswa asing, dan menguatkan kolaborasi universitas di Surabaya dalam rangka internasionalisasi pendidikan," jelas Yoseva.
Menurut data Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, kota ini dikunjungi lebih dari 30.000 wisatawan mancanegara setiap tahunnya (pra-pandemi).
"Inisiatif UC ini menjadi bagian dari upaya mempromosikan Surabaya, bukan hanya sebagai kota industri dan bisnis, tetapi juga sebagai pusat budaya yang bisa dikenalkan lewat pendekatan kreatif," imbuh Yoseva.
Lebih lanjut, di bawah arahan Putu Wardhani, seniman sekaligus laboran dari program studi Visual Communication Design (VCD) UC yang dibantu oleh 5 mahasiswa VCD UC, mahasiswa asing tersebut diajak melukis menggunakan medium kopi dengan objek khas kota Surabaya, mulai dari Tugu Pahlawan, Tari Remo, peristiwa Hotel Yamato, kawasan Kota Lama, hingga Tugu Surabaya sebagai ikon kota.
Kegiatan ini bukan sekadar praktik seni, tetapi juga cara mengenalkan sejarah, identitas, dan kebanggaan Surabaya kepada mahasiswa internasional. Ghulam Muhammad mahasiswa pakistan mengaku senang. Menurutnya, melukis dengan kopi adalah pengalaman yang unik
Selain seni, peserta juga diajak mencoba berbagai permainan tradisional Indonesia yang sarat nilai kebersamaan, seperti sendok kelereng, oper sarung, dan domikado. Aktivitas ini bertujuan menumbuhkan interaksi lintas budaya sekaligus memperkuat ikatan persahabatan antar mahasiswa lokal dan mancanegara.
"Dengan perpaduan seni, sejarah, dan permainan tradisional, kegiatan ini tak hanya menjadi ajang belajar, tetapi juga ruang berbagi makna bahwa Surabaya adalah kota yang hidup dengan budaya dan keramahan warganya," pungkas Yoseva. (*)
Pewarta | : Siti Nur Faizah |
Editor | : Hendarmono Al Sidarto |