Waspada Ancaman Leptospirosis di Musim Hujan, 6 Warga Kota Yogyakarta Meninggal
TIMES Surabaya/Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu. (FOTO: Soni H/TIMES Indonesia)

Waspada Ancaman Leptospirosis di Musim Hujan, 6 Warga Kota Yogyakarta Meninggal

Infeksi berbahaya yang disebabkan oleh bakteri Leptospira ini kerap muncul di lingkungan lembab dan wilayah dengan banyak genangan air, terutama yang terkontaminasi urine tikus.

TIMES Surabaya,Rabu 5 November 2025, 11:29 WIB
209.8K
S
Soni Haryono

YOGYAKARTAMemasuki musim penghujan, Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Yogyakarta) mengeluarkan peringatan serius kepada masyarakat agar waspada terhadap ancaman penyakit leptospirosis.

Infeksi berbahaya yang disebabkan oleh bakteri Leptospira ini kerap muncul di lingkungan lembab dan wilayah dengan banyak genangan air, terutama yang terkontaminasi urine tikus.

Data terbaru Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat, hingga akhir Oktober 2025 sudah ada 26 kasus leptospirosis di wilayah kota, dengan 6 di antaranya berujung kematian. Kasus terakhir terjadi pada Oktober lalu, menimpa seorang warga Kelurahan Bumijo.

“Ini menjadi pengingat bahwa leptospirosis bukan penyakit sepele. Jika tidak segera ditangani, bisa menyebabkan gagal ginjal dan gangguan paru yang fatal,” ujar Endang Sri Rahayu, Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Rabu (5/11/2025).

Dua Pemicu Utama Leptospirosis

Endang menjelaskan, meningkatnya kasus leptospirosis di musim hujan erat kaitannya dengan populasi tikus yang melonjak dan pengelolaan sampah yang belum optimal.

Tumpukan sampah menjadi tempat favorit bagi tikus untuk berkembang biak, dan urine hewan ini dapat mencemari air maupun tanah di sekitar permukiman.

“Semakin banyak sampah, semakin banyak tikus. Pencegahan paling efektif dimulai dari rumah dengan menjaga kebersihan, tutup makanan dan minuman, serta biasakan mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas,” imbau Endang.

Endang juga menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi pekerja di lingkungan berisiko tinggi, seperti petugas kebersihan dan pengelola sampah. “Gunakan sepatu bot, sarung tangan panjang, dan tutup luka sebelum bekerja di area lembab,” tegasnya.

Kenali Gejala Awal Sebelum Terlambat

Menurut Endang, deteksi dini menjadi kunci utama keselamatan pasien. Gejala leptospirosis sering kali mirip flu biasa, tetapi ada tanda khas yang perlu diwaspadai: nyeri pada betis, mata menguning, dan rasa sakit saat betis ditekan.

“Jangan tunggu parah. Segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat bila merasakan gejala tersebut,” tegas Endang.

Banyak kasus kematian, lanjut Endang, disebabkan oleh keterlambatan penanganan medis. “Sering kali pasien datang dalam kondisi sudah kritis. Di minggu kedua, infeksi biasanya sudah menyerang ginjal dan organ vital lainnya,” ungkapnya.

Sebagai langkah cepat tanggap, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memperkuat kapasitas tenaga medis di seluruh puskesmas. Pelatihan intensif dilakukan bersama dokter spesialis penyakit dalam, bekerja sama dengan enam rumah sakit rujukan.

“Obatnya ada. Tapi masalahnya, pasien sering terlambat datang. Maka kami harap media dan masyarakat ikut menyebarkan pesan kewaspadaan ini,” tutur Endang.

Dinkes Lakukan Survei Tikus dan Lingkungan

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Surveilans dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Sholikhin Dwi Ramtana, mengungkapkan pihaknya telah melakukan survei reservoir di dua lokasi: Perumahan Lapas dan Bumijo.

Hasilnya cukup mencengangkan yaitu sebagian besar tikus di kawasan Lapas positif mengandung bakteri Leptospira. Selain tikus, hewan mamalia lain seperti anjing, sapi, kambing, dan kuda juga bisa menjadi pembawa bakteri ini, meski risiko penularannya lebih kecil dibanding tikus.

“Kalau tidak segera ditangani, infeksinya bisa menjadi terminal. Biasanya berujung komplikasi berat pada ginjal,” jelas Sholikhin.

Ia menambahkan, Dinas Kesehatan juga menjalankan strategi pencegahan primer dan sekunder sesuai dengan Permenko Nomor 17 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis.

“Pencegahan primer dilakukan lewat edukasi lintas sektor dan pengendalian faktor risiko lingkungan. Sementara pencegahan sekunder fokus pada peningkatan kewaspadaan tenaga kesehatan,” ujarnya.

Dengan kondisi iklim yang semakin ekstrem, Pemkot Yogyakarta mengimbau seluruh warga untuk tidak menganggap remeh genangan air atau area lembab di sekitar rumah.
Setiap langkah kecil dalam menjaga kebersihan bisa menyelamatkan nyawa.

“Leptospirosis bisa dicegah jika masyarakat disiplin menjaga kebersihan dan tidak menyepelekan gejala awal,” jelas Endang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Soni Haryono
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Surabaya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.