Lonjakan HIV/AIDS di Sidoarjo, Anggota Komisi E DPRD Jatim Minta Layanan VCT Diperluas
Kasus baru HIV/AIDS di Sidoarjo tembus 7.129 dalam tiga bulan. Anggota Komisi E DPRD Jatim dr Benjamin Kristianto mendesak tracing masif dan perluasan VCT.
Surabaya – Lonjakan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo memicu alarm bagi sektor kesehatan masyarakat Jawa Timur. Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, tercatat sebanyak 7.129 kasus baru berhasil dideteksi di wilayah tersebut. Angka ini mengundang perhatian dari kalangan legislatif, khususnya Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur yang membidangi kesejahteraan rakyat dan kesehatan.
Anggota Komisi E DPRD Jatim, dr. Benjamin Kristianto, MARS, menyatakan bahwa temuan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sebuah persoalan kemanusiaan yang membutuhkan penanganan luar biasa. Menurutnya, fakta bahwa ribuan kasus terdeteksi dalam waktu singkat mengindikasikan adanya fenomena gunung es di masyarakat.
"Angka 7.129 ini sangat mengkhawatirkan dan harus menjadi perhatian serius kita semua. Ini bukan lagi sekadar laporan rutin, tapi alarm darurat kesehatan," ujar dr. Benjamin saat memberikan keterangan pers kepada media, Rabu (10/6/2026).
Sebagai seorang praktisi medis yang kini duduk di parlemen, dr. Benjamin menjelaskan bahwa penularan HIV tidak lagi terbatas pada kelompok berisiko tinggi konvensional, melainkan sudah merambah ke lingkungan domestik.
"Saya pernah menangani sendiri pasien ibu rumah tangga yang awalnya hanya mengeluhkan flu berkepanjangan dan tak kunjung sembuh. Setelah dilakukan pemeriksaan darah secara komprehensif, ternyata hasilnya positif HIV. Kasus seperti ini menunjukkan bahwa kewaspadaan dan deteksi dini sangat vital. Siapa pun bisa terpapar jika mata rantai penularannya tidak kita putus bersama," ungkap politisi Gerindra tersebut.
Ia menekankan bahwa penanganan HIV/AIDS tidak boleh terjebak dalam stigma negatif yang justru membuat para penyintas atau kelompok berisiko menyembunyikan diri. Pendekatan yang dilakukan harus menyentuh sisi edukasi masif, serta perluasan akses layanan konseling dan tes HIV sukarela (Voluntary Counseling and Testing/VCT) hingga ke tingkat puskesmas pembantu dan desa.
Menyikapi urgensi ini, dr. Benjamin mendesak Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemprov Jatim berkolaborasi aktif dengan Dinkes Sidoarjo serta seluruh elemen masyarakat untuk memperketat tracing (penelusuran) dan memastikan ketersediaan obat antiretroviral (ARV) tidak mengalami kendala. Edukasi terkait gaya hidup sehat dan kesetiaan pada pasangan juga harus digelorakan kembali tanpa membuat masyarakat merasa dihakimi.
"Kita harus selamatkan masa depan generasi kita. Langkah preventif, skrining dini yang masif, serta pendampingan psikologis dan medis bagi mereka yang terdampak harus berjalan beriringan. Kita tidak boleh kalah cepat dengan penyebaran virus ini," pungkas dr. Benjamin. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

