Tekan Penularan TBC, Pemkot Surabaya Optimalkan Skrining dan Investigasi Kontak
Dinkes Kota Surabaya menggencarkan tracing dan screening penanggulangan TBC hingga Mei 2026 menggunakan teknologi deteksi air liur baru guna mendukung eliminasi TBC 2030.
Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) melalui kegiatan tracing dan screening yang dilakukan secara rutin di sejumlah wilayah. Hingga Mei 2026, capaian pemeriksaan suspek TBC di Kota Pahlawan menunjukkan perkembangan signifikan sebagai bagian dari dukungan terhadap target nasional eliminasi TBC pada 2030.
"Sampai bulan Mei kemarin, kita sudah lakukan pemeriksaan itu terhadap sekitar 50 persen lebih dari 68.000 estimasi target penemuan yang diberikan Kemenkes ke Kota Surabaya," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan tracing dan screening ini turut melibatkan dokter spesialis paru serta residen paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair). Selain dukungan tenaga medis, dr. Billy menyebut kegiatan tersebut juga memanfaatkan teknologi pemeriksaan terbaru yang mempermudah deteksi TBC.
"Ada alat untuk pemeriksaan baru. Kalau selama ini kan kita harus pakai dahak. Nah, kesulitan untuk dapat dahak ini, ternyata ada alat yang bisa membantu kita, cukup saliva atau air liur saja kita bisa mendeteksinya," jelas dr. Billy.
Metode pengembangan deteksi ini, lanjut dr. Billy, didukung pula oleh tim ahli dari Cina dan Korea. Langkah penanganan TBC di Surabaya dilakukan sesegera mungkin setelah pasien terdiagnosis. Obat dan paket terapi telah disiagakan di seluruh puskesmas untuk memastikan pasien langsung menjalani pengobatan.
"Jadi langkah dari tracing dan screening ini, begitu kita ketemu, langsung kita terapi. Setelah diagnostik selesai, kita terapi. Paket-paket untuk terapi ini sudah ada di puskesmas," tuturnya.
Untuk memastikan keberhasilan pengobatan, Dinkes Surabaya juga melibatkan Kader Surabaya Hebat (KSH), petugas puskesmas, dan tim internal Dinkes dalam memantau kepatuhan pasien mengonsumsi obat.
"Jadi, baik itu Kader Surabaya Hebat, tim dari puskesmas setempat, dan Dinas Kesehatan akan memantau ketaatan minum obatnya," kata dr. Billy.
Ia berharap berbagai upaya yang dilakukan Pemkot Surabaya dapat membantu pemenuhan target nasional eliminasi TBC pada 2030.
"Kita harapkan paling tidak target dari Kementerian Kesehatan itu kita bisa dapat, sehingga angka eliminasi TB tahun 2030 yang diharapkan itu tercapai," pungkasnya.
Berdasarkan data Dinkes Surabaya periode Januari-Mei 2026, dari target penemuan 61.624 suspek atau terduga TBC, sebanyak 44.088 orang telah diperiksa atau mencapai 71,54 persen. Sementara itu, capaian skrining telah menjangkau 644.201 penduduk atau 45,78 persen dari target 50 persen jumlah penduduk yang harus diskrining.
Dari estimasi 11.412 kasus TBC pada 2026, sebanyak 4.191 kasus berhasil ditemukan. Jumlah tersebut terdiri atas 4.078 kasus TBC Sensitif Obat (SO) dan 113 kasus TBC Resistan Obat (RO). Saat ini, sebanyak 4.166 pasien TBC tengah menjalani pengobatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Surabaya.
Untuk kasus TBC SO, sebanyak 3.443 pasien atau 84,43 persen telah memulai pengobatan. Sedangkan dari 113 kasus TBC RO yang ditemukan, sebanyak 90 pasien atau 79,65 persen telah menjalani terapi.
Tingkat keberhasilan pengobatan atau Treatment Success Rate (TSR) TBC SO di Surabaya tercatat mencapai 89,36 persen, sementara angka kematian pasien TBC selama menjalani pengobatan berada di angka 1,80 persen.
Selain itu, Dinkes Surabaya juga mencatat sebanyak 2.461 investigasi kontak telah dilakukan, dan 2.729 orang mendapatkan terapi pencegahan kontak serumah sebagai bagian dari upaya memutus rantai penularan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

