TIMES SURABAYA, SURABAYA – Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan krisis lahan perkotaan, RW 07 Kelurahan Gayungan, Surabaya, berhasil menciptakan anomali hijau yang mencuri perhatian nasional. Melalui Kelompok Tani Ganifolia, warga sukses membudidayakan Vanili Planifolia komoditas bernilai ekonomi tinggi dii dataran rendah yang suhunya kerap menyentuh angka 35 derajat Celcius.
"Dari 153 kelurahan di Surabaya, tidak ada tanaman vanili, hanya di sini. Makanya kita beberapa kali membawa nama kelurahan ke tingkat kota, provinsi, hingga terakhir kemarin ke tingkat nasional," ujar Bambang Teguh Januardi, Ketua RT 01 sekaligus pengelola kebun Ganifolia saat ditemui di lokasi, Sabtu (10/1/2026).
Proyek yang dinamai Ganifolia (Gayungan Vanili Planifolia) ini berawal dari inisiatif almarhum Ir. Didik Yanwardi, seorang arsitek alumni ITS pada awal 2023.
Menggunakan lahan tidur seluas 11x25 meter yang dulunya merupakan tempat pembuangan sampah, warga nekat mendatangkan sulur vanili langsung dari Bali dengan nilai investasi awal mencapai Rp90 juta.
Bambang mengakui bahwa merawat vanili di Surabaya jauh lebih sulit dibanding di dataran tinggi yang sejuk.
"Vanili ini tumbuh di dataran tinggi dengan udara sejuk. Ini di Surabaya, dataran rendah di bawah permukaan air laut. Udaranya cukup panas, makanya kalau hidup saja sudah Alhamdulillah," tambahnya.
Keberhasilan ini tidak lepas dari analisis mendalam terkait nutrisi dan kelembapan. Warga tidak menggunakan pupuk kimia, melainkan racikan mandiri yang sangat detail.
Dengan mitigasi suhu lewat rekayasa media tanam dan konsistensi organik. Seperti nutrisi air ikan menggunakan air kolam ikan sebagai penguat akar dan batang. Selain itu menggunakan tanah hasil pengerukan saluran (Sandiman) yang dikeringkan 3 hari untuk membunuh bakteri sebelum dijadikan media tanam. Salah satu dalam menjaga suhu surabaya yang cukup panas sabut kelapa membantu agar tanaman tidak langsung terpapar sinar matahari.
Kebun ini juga menjadi laboratorium sosial bagi mahasiswa dan tamu mancanegara Bambang menceritakan bagaimana mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) hingga delegasi dari Belanda datang untuk belajar sistem pengomposan organik mereka.
Meskipun sempat dihantam duka saat Didik Yanwardi meninggal dunia tepat di depan kebun pada Maret 2023, warga tetap konsisten melanjutkan misi ini.
Tarrgetnya, vanili Gayungan akan memasuki masa panen setelah usia 3 tahun dengan proyeksi pasar ke industri kosmetik besar di Surabaya.
"Ini bukan untuk pribadi, tapi untuk seluruh warga Surabaya yang mau edukasi. Ilmu tidak boleh dipakai sendiri, harus kita bagikan sebagai amal jariyah," tutup Bambang. (*)
| Pewarta | : Zisti Shinta Maharani |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |