https://surabaya.times.co.id/
Berita

Haul ke-31 KH Abdul Wahab Turcham, Yayasan Khadijah Surabaya Perkuat Identitas Pesantren Kota

Minggu, 25 Januari 2026 - 15:52
Menjaga Sanad Ilmu di Haul ke-31 KH Abdul Wahab Turcham, Pendiri Yayasan Khadijah Surabaya Yayasan Khadijah Surabaya menggelar Haul ke-31 KH Abdul Wahab Turcham di Islamic Centre Surabaya, Minggu (25/1/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMES SURABAYA, SURABAYA – Yayasan Taman Pendidikan Khadijah Surabaya menggelar acara Haul ke-31 KH Abdul Wahab Turcham di Islamic Centre Dukuh Kupang Surabaya, Minggu (25/1/2026).

Acara tersebut turut dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa yang juga merupakan Ketua Pembina Yayasan Khadijah Surabaya, Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Ketua PW Muslimat NU Jatim Masruroh Wahid, Sekretaris MUI Jatim KH Hasan Ubaidillah, dan sejumlah tokoh perintis.

KH Abdul Wahab Turcham merupakan pendiri Yayasan Khadijah Surabaya yang telah melahirkan banyak tokoh-tokoh hebat di berbagai sektor. Salah satunya Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Lahir pada 5 Januari 1915, beliau adalah sosok ulama dan pendidik yang telah mewakafkan hidupnya untuk ilmu, dakwah, dan pembinaan generasi.

Dengan penuh ketulusan serta kesederhanaan, beliau menanamkan nilai keimanan, akhlak, dan keikhlasan yang hingga hari ini terus hidup menjadi ruh perjuangan Yayasan Khadijah Surabaya. 

Yayasan-Khadijah-Surabaya-2.jpg

Tak heran, karena KH Abdul Wahab Turcham tumbuh besar di lingkungan keluarga santri. Beliau merasakan tempaan pendidikan agama dan cinta Tanah Air yang kuat dari ayahnya serta para ulama besar.

Kecemerlangan dalam menyimpulkan ide, membuatnya lekat sebagai pribadi cerdas hingga akhirnya mendirikan Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Khadijah Surabaya pada 1 Agustus 1954.

Pesan beliau kepada para tenaga pendidik adalah janganlah kamu mencari penghidupan di Khadijah, tetapi hidupilah Khadijah.

KH Abdul Wahab Turcham kemudian mengajarkan semua ilmu pengetahuan maupun ilmu keagamaan melalui para guru. Seperti fiqih, tauhid, hingga hadist. Kurikulum pesantren itu, kini masih tetap dipertahankan dengan berpedoman pada kitab-kitab yang asli.

"Oleh karena itu, Yayasan Khadijah ini layak betul untuk disebut sebagai pesantren kota," kata Kepala SMA Khadijah Surabaya, Muhammad Iqbal.

Pembina Yayasan Khadijah Surabaya, Hj Djajilah Rahma pada kesempatan tersebut mengajak para siswa merawat sanad ilmu dan menjaga warisan KH Abdul Wahab Turcham.

Tak lupa, melestarikan prinsip Ahlussunah wal Jamaah dalam lingkungan Khadijah yang mulai bertransformasi sebagai pesantren kota.

Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya yang juga merupakan perwakilan alumni Khadijah Surabaya, Prof Dr Elly Munadziroh pada kesempatan itu mengisahkan bagaimana 40 tahun lalu, ketika ia menjadi murid dan mengenal sosok KH Abdul Wahab Turcham.

"Ustadz Wahab adalah ustadz yang tenang, sabar, tawadhu, dan paling saya ingat, beliau datang selalu lebih pagi dari kami," ungkap Prof Elly.

Yayasan-Khadijah-Surabaya-3.jpg

"Kami datang sepagi apapun, beliau sudah berdiri di depan kantor. Kemudian, kita berbaris untuk salim (berjabat tangan, red) kepada beliau," sambungnya.

Di kemudian hari, Prof Elly mengaku baru meresapi bahwa sikap yang ditunjukkan oleh KH Abdul Wahab Turcham adalah penanaman pendidikan karakter bagi siswa.

"Karakter kedisiplinan, bahwa datang harus selalu pagi tidak terlambat, kemudian dedikasi beliau, juga integritas pada pendidikan," katanya.

Kenangan lain yang masih membekas adalah saat pelajaran dimulai. Prof Elly menyebut, jika KH Abdul Wahab Turcham akan selalu membuka setiap pintu kelas dan menyapa siswa. Jika ada kelas kosong, sosok kiai kharismatik itu langsung masuk untuk mengajar. (*)

Pewarta : Lely Yuana
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Surabaya just now

Welcome to TIMES Surabaya

TIMES Surabaya is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.