https://surabaya.times.co.id/
Berita

BKKBN Jatim Target Penurunan Stunting

Senin, 05 Januari 2026 - 13:46
BKKBN Jatim Target Penurunan Stunting Plh Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jatim Sukamto saat penyerahan bantuan kepada keluarga risiko stunting, Senin (5/1/2026). (FOTO: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMES SURABAYA – Prevalensi stunting di Jawa Timur pada tahun 2025 tercatat sebesar 14,7 persen. Meski mengalami penurunan, masih terdapat sejumlah kabupaten kota dengan angka stunting yang tergolong tinggi dan memerlukan perhatian serius dari semua pihak.

Maka dari itu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Perwakilan Provinsi Jawa Timur menegaskan penurunan angka stunting sebagai prioritas kinerja tahun 2026.

"Jawa Timur saat ini masih berada di angka 14,7 persen. Kalau dibreakdown per kabupaten kota, masih banyak daerah yang prevalensinya di atas 29 persen, bahkan ada yang mencapai 30 persen,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukamto saat Apel Senin bertajuk “ASN Peduli-Berbagi” di lingkungan Kemendukbangga/BKKBN Jatim, Senin (5/1/2026).

Ia mengatakan, bahwa daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di Jatim adalah Kabupaten Jember. Salah satunya karena faktor mulai dari pernikahan usia dini, permasalahan gizi, hingga penyebab multidimensi. Meskipun demikian, program pemerintah sudah terus menerus dilaksanakan untuk menurunkan angka stunting di sana serta sejumlah daerah yang angka stuntingnya masih cukup tinggi.

Sukamto-a.jpgPlh Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jatim Sukamto, Senin (5/1/2026). (FOTO: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Kemendukbangga/BKKBN Jatim juga berupaya melakukan pendampingan dalam proses survei guna memastikan program yang dilaksanakan tepat sasaran.

"Apakah nanti kaitannya dengan surveinya kita lakukan pendampingan yang luar biasa, karena ini survei, belum tentu bisa mewakili populasi yang ada di sana. Tetapi, kalau untuk data-data kaitannya dengan bulan timbang udah bagus kok,  artinya seluruh kabupaten kota sudah di bawah 10 persen sebetulnya," jelas Sukamto.

Sementara itu, Kemendukbangga/BKKBN Jatim pun menargetkan zero stunting pada 2026, kendati angka 14 persen masih dalam batas standar. Bahkan, organisasi kesehatan dunia WHO menetapkan ambang batas stunting tinggi di 20 persen hingga 30 persen.

"Kalau di Jatim terus kita turunkan bahkan ada di angka kalau tahun ini mudah-mudahan bisa turun sekitar kurang lebih misalkan 10 persen atau 12 persen lah, misalkan seperti itu. Jadi kalau kemarin secara WHO 14 persen sudah baik, bagus," jelas Sukamto.

"Tetapi, pemerintah kemarin mengalokasikan di masing-masing wilayah sesuai dengan RPJMN, RPJMD, terus diturunkan bahkan nanti harapannya nanti zero stunting di masa yang akan datang," katanya menambahkan.

Dalam arahannya, Sukamto juga menekankan pentingnya peran seluruh ASN dan kader dalam mengawal program prioritas Presiden Prabowo Subianto, khususnya Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Khususnya untuk sasaran 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD, baik di Jawa Timur maupun secara nasional,” kata Sukamto 

Ia juga meminta adanya pembaruan data TPK (Tim Pendamping Keluarga)  kader di lapangan agar upaya percepatan penurunan prevalensi stunting di masing-masing kabupaten/kota dapat berjalan optimal.

Karena itu, Sukamto mengajak seluruh jajaran Kemendukbangga/BKKBN untuk terus memperkuat kolaborasi dan sinergi dengan kementerian/lembaga lain demi mewujudkan visi Presiden menuju Indonesia Emas 2045.

Mengawali tahun 2026, Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Timur juga melaksanakan program ASN Peduli-Berbagi dengan menyalurkan bantuan kepada keluarga risiko stunting (KRS). Sasaran bantuan meliputi ibu hamil, ibu menyusui, serta keluarga dengan balita non-PAUD.

“Ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan quick win. Di sekitar lingkungan kantor ini terdapat beberapa masyarakat yang masuk kategori keluarga risiko stunting dan membutuhkan bantuan,” ujar Sukamto.

Para penerima bantuan mendapatkan bingkisan berupa sembako serta kebutuhan penunjang pemenuhan gizi.

Program ini diharapkan dapat membantu meringankan beban keluarga sekaligus berkontribusi dalam menekan angka stunting di Jawa Timur.

“Paling tidak bisa membantu meringankan beban mereka. Pemerintah harus hadir melalui program-program seperti ASN Peduli-Berbagi, meskipun nilainya tidak seberapa,” katanya.

Salah satu penerima bantuan, Maharani, ibu hamil yang masuk kategori keluarga risiko stunting, mengaku bersyukur atas bantuan yang diterimanya.

“Tadi saya diberikan sembako berupa beras, gula, dan mi goreng, pokoknya sembako,” ujarnya.

Maharani juga menceritakan kondisi kehamilannya saat ini yang merupakan kehamilan keempat, setelah sebelumnya mengalami dua kali keguguran dan satu anak yang meninggal dunia.

“Semoga kehamilan ini lancar. Saya berharap Kemendukbangga/BKKBN Jatim terus membantu masyarakat kecil, terutama yang tinggal di sekitar kantor BKKBN sini,” ucapnya. (*)

Pewarta : Lely Yuana
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Surabaya just now

Welcome to TIMES Surabaya

TIMES Surabaya is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.