TIMES SURABAYA, JAKARTA – Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai prospek pergerakan harga Bitcoin pada 2026 masih menjanjikan, namun tetap dibayangi volatilitas tinggi seiring dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.
Menurut dia, dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin (12/1/2026), pasar kripto memasuki fase transisi yang membuat arah pergerakan Bitcoin semakin dipengaruhi faktor makroekonomi dan kebijakan regulator.
Di luar fluktuasi jangka pendek, sejumlah pelaku industri dan investor global memproyeksikan harga Bitcoin pada 2026 bergerak dalam rentang yang sangat lebar, mulai dari 75 ribu dolar AS atau sekitar Rp1,25 miliar hingga 225 ribu dolar AS atau setara Rp3,77 miliar. Rentang proyeksi yang luas tersebut mencerminkan sensitivitas Bitcoin terhadap kebijakan moneter global, kondisi likuiditas, serta perkembangan regulasi aset digital.
"Beberapa lembaga keuangan dan pelaku industri memperkirakan Bitcoin berpotensi berada di kisaran 120 ribu dolar AS-170 ribu dolar AS pada paruh kedua 2026, didorong oleh ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dan kejelasan regulasi aset digital di Amerika Serikat," kata Fyqieh.
Namun, skenario yang lebih konservatif melihat Bitcoin bergerak di area 75 ribu dolar AS-150 ribu dolar AS, dengan volatilitas tinggi akibat ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global.
Ia menilai perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan perubahan struktur pasar kripto.
"Bitcoin memasuki 2026 dengan struktur pasar yang berbeda dibandingkan siklus sebelumnya. Peran investor institusional, ETF (dana yang diperdagangkan di bursa Bitcoin), serta regulasi akan semakin dominan, sehingga volatilitas tetap tinggi, tetapi basis permintaan menjadi lebih luas dan matang," kata Fyqieh.
Menurut dia, arah kebijakan bank sentral AS akan menjadi faktor kunci penentu pergerakan Bitcoin ke depan.
"Jika suku bunga benar-benar turun dan likuiditas kembali longgar, Bitcoin berpotensi kembali menguji level tertinggi sebelumnya. Namun investor tetap perlu mewaspadai fluktuasi tajam karena pasar masih sangat sensitif terhadap data makro dan arus dana ETF," ujar dia.
Pelaku pasar juga akan mencermati rilis data inflasi (CPI) dan laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dinilai menjadi katalis utama pergerakan Bitcoin dan pasar kripto dalam beberapa bulan mendatang.
Harga Bitcoin tercatat naik 1,01 persen ke level 91.522,17 dolar AS pada Senin pukul 14.42 WIB. Meski demikian, sebelumnya Bitcoin sempat terkoreksi di bawah 90 ribu dolar AS akibat tekanan jangka pendek dari arus keluar dana ETF dan aksi ambil untung pelaku pasar.
Tekanan tersebut muncul di tengah rilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) AS periode November yang mencatat 7,1 juta lowongan pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar. Data ini memperkuat sinyal perlambatan ekonomi AS dan membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed.
Namun, alih-alih menguat, Bitcoin justru melanjutkan pelemahan setelah sebelumnya menyentuh area 89 ribu dolar AS di awal tahun. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global terkoreksi sekitar 3,2 persen ke level 3,08 triliun dolar AS, dengan tekanan juga terlihat pada Ethereum dan sejumlah altcoin utama.
Fyqieh menilai pergerakan tersebut lebih mencerminkan fase konsolidasi.
"Data tenaga kerja AS yang melemah secara fundamental sebenarnya mendukung aset berisiko seperti Bitcoin karena meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga. Namun dalam jangka pendek, pasar masih dibayangi aksi profit taking, tekanan ETF, dan penyesuaian leverage," ujar dia.
Tekanan pasar juga diperparah oleh arus keluar dana Spot Bitcoin ETF yang mencapai sekitar 243 juta dolar AS dalam satu hari, disertai aktivitas penjualan dari penambang serta likuidasi posisi derivatif. Lebih dari 64 juta dolar AS posisi Bitcoin tercatat terlikuidasi dalam 24 jam terakhir.
Menurut Fyqieh, selama Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis 90 ribu dolar AS, tren jangka menengah masih relatif terjaga.
“Penolakan di resistance 94 ribu dolar AS memicu koreksi teknikal. Namun selama support utama tidak ditembus, pergerakan ini lebih mengarah ke konsolidasi, bukan pembalikan tren,” katanya menjelaskan. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Bitcoin 2026 di Persimpangan Volatilitas, Proyeksi Harga hingga Rp3,7 Miliar
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |