TIMES SURABAYA, SURABAYA – Tahun 2015. Seorang fotografer profesional, Romi Perbawa masuk dalam sebuah wilayah Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Ia tengah menangani sebuah proyek dokumenter dan tanpa sengaja bertemu salah satu anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Arnoldus Karno Rico.
Karno baru berusia 13 tahun. Sehari-hari ia mengarungi lautan, menjala ikan sebagai nelayan. Penghasilannya hanya sekitar Rp300.000 per bulan.
Romi Perbawa (kiri) bersama salah satu penggemar karya fotonya saat pameran di Surabaya beberapa waktu lalu.(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Karno tidak pernah sekolah, atau sekadar merasakan debu bangku pendidikan. Bapak ibunya pergi ke luar negeri sebagai pekerja migran sejak ia berusia 6 tahun. Dalam kesendirian itu, Karno harus membantu neneknya dan menghidupi adik-adiknya.
Lewat bidikan lensa kamera, wajah Karno yang tengah beristirahat tampak begitu kelelahan. Romi termenung hingga muncul sebuah pemikiran dari nurani terdalam.
"Bagaimana nasib anak-anak pekerja migran yang lain? Apakah mereka seperti Karno?" ungkapnya penuh pergulatan hati.
Karena keprihatinan itulah, Romi bertekad melakukan riset sekaligus mencari informasi untuk memastikan apakah pemerintah telah memberikan perhatian dan perlindungan terhadap anak-anak para pekerja migran yang ditinggalkan oleh orang tua mereka. Ada yang bekerja ke Arab Saudi, Malaysia, Hongkong, atau Taiwan.
"Saat itu belum ada (perlindungan bagi anak pekerja migran) pada tahun 2015. Akhirnya, saya putuskan aku harus menginvestigasi bagaimana nasib-nasib yang lain," ujar Romi, Kamis (15/1/2026).
Dari Nusa Tenggara Timur, Romi kemudian berpindah menuju Lombok dan Madura.Tepatnya di Sampang sebagai salah satu wilayah penyumbang Pekerja Migran Indonesia. Di sana, kameranya menangkap wajah pedih Rizkiyah. Gadis 13 tahun yang hendak berangkat sekolah.
"Aku akan mengusir ibuku ketika dia pulang. Dia tidak boleh tinggal di rumah ini," ucapnya tatkala Romi mengajaknya berbincang dari hati ke hati.
Romi juga memotret suasana belajar mengajar di Sekolah Dasar Desa Bujur Tengah, Sampang. Sebagian besar orang tua murid bekerja di Malaysia.
Menurut Romi, untuk beberapa daerah seperti Pulau Jawa, kepedulian tetangga masih terasa. Kepala desa atau RT/RW cukup memberikan perhatian sebagai figur pengganti orang tua.
Namun, tidak semua daerah seperti itu. Di Nusa Tenggara Timur misalnya. Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain cukup jauh, sehingga minim pengawasan atau kepedulian tetangga terhadap anak-anak.
"Pendidikan yang paling penting, saya menyoroti itu," kata Romi.
Dari sana, ia mulai membuat personal project secara detail. Romi juga mencari kisah serupa. Tak tanggung-tanggung, Romi terbang ke Malaysia dan Hongkong demi mengungkap fakta lebih luas dan mendalam.
Romi berhari-hari dalam perjalanan darat sebelum berhasil menyeberangi lautan dari perbatasan anak kepulauan menuju daratan Malaysia. Ia mengaku sempat mengalami kesulitan dan ancaman di Pulau Sebatik, sebuah pulau yang sebagian masuk wilayah Indonesia dan sebagian wilayah Malaysia.
Di Pulau Sebatik, Sungai Nyamuk yang bermuara ke selat menjadi saksi bagaimana ia begitu tenang menghadapi tekanan.
Romi digeledah dan diperiksa selama satu hari penuh oleh otoritas setempat. Meskipun pada akhirnya ia berhasil lolos hingga bisa mendengar langsung cerita pilu, nasib anak-anak para migran yang terlahir di negeri orang.
Hasil riset lintas negara itu menghasilkan sebuah temuan mencengangkan. Anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, kebanyakan hidup bersama kakek dan neneknya.
Rizkiyah, anak dari pekerja migran. Gadis 13 tahun asal Sampang yang hendak berangkat sekolah. Ia berkata : Aku akan mengusir ibuku ketika dia pulang. Dia tidak boleh tinggal di rumah ini. (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Sementara anak-anak pekerja migran yang terlahir di negeri orang, harus hidup dalam bayang-bayang ancaman legalitas.
Beberapa diantaranya terpenjara dalam jeruji besi Pusat Tahanan Sementara (PTS) atau Rumah Merah yang berlokasi di Sandakan, Malaysia sembari menunggu kepastian deportasi. Mereka banyak yang masih berusia di bawah umur. Terkena operasi tanpa dokumen.
"Saya dengan Konsul Jenderal datang ke sana, memotret mereka satu-satu, dalam rangka untuk membuat SPLP (Surat Perjalanan Laksana Pasport) untuk mereka deportasi," ucapnya.
Romi merasakan trenyuh luar biasa. Ratusan anak ditahan dalam sel berukuran kecil. Mereka bukan pelaku kriminal, bukan pencuri, bukan pula perampok.
Hanya nasib yang membawa dalam ketidakjelasan legalitas. Anak-anak dalam tahanan sementara ini lahir di Malaysia, tetapi berkewarganegaraan Indonesia.
"Selamanya akan tetap seperti itu dan sampai saat ini masih menjadi masalah," ucap Romi.
Abadi dalam Buku
Seluruh foto dan rekam jejak wawancara bersama anak dari para pekerja migran tersebut terpatri abadi dalam sebuah buku berjudul Au Loim Fain yang diterbitkan pada 2022. Semua proses selama tahun 2015 hingga 2018 yang ia jalani penuh kesan. Romi tak lagi mampu berkata-kata.
Ada foto bercerita tentang tenaga kerja di pabrik Plywood Verocity, Keningau, Sabah, Malaysia. Sebagian besar dari mereka berasal dari Flores, Sulawesi, dan Jawa.
Kemudian, peta visual jalur tikus yang menghubungkan Entikong Indonesia dengan Tebedu Malaysia menjadi jalur alternatif bagi TKI atau Pekerja Migran Indonesia yang tidak berdokumen resmi.
Ada pula foto Maria, gadis berusia 16 tahun yang berasal dari Soe, Nusa Tenggara Timur. Maria bekerja tanpa dokumen resmi di Klang, Malaysia. Sementara Pemerintah Malaysia telah menetapkan aturan usia minimum 21 tahun untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga.
Tetapi, sang fotografer lebih detail menyoroti tentang anak-anak pekerja migran yang ditinggalkan di kampung halaman maupun yang dilahirkan di negara tujuan mereka.
"Judul bukuku Au Loim Fain, dari bahasa ibu Adelina, pekerja migran Indonesia yang mengalami penyiksaan dan berakhir meninggal dunia. Ia berasal dari Waimanu Nusa Tenggara Timur. Dan kata-kata yang diucapkan Adelina adalah au loim fain, aku mau pulang, aku mau pulang," jelas Romi.
Foto-foto dramatis dalam buku dokumenter Romi Perbawa itu telah menjelajahi sejumlah galeri dan pameran tunggal. Mulai dari Pameran Migran Care di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.(*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Au Loim Fain Karya Romi Perbawa, Jeritan Hati Anak dari Para Pekerja Migran Indonesia
| Pewarta | : Lely Yuana |
| Editor | : Deasy Mayasari |