https://surabaya.times.co.id/
Opini

Esensi Kebersamaan dalam Tradisi Kupatan

Sabtu, 05 April 2025 - 12:09
Esensi Kebersamaan dalam Tradisi Kupatan Ahmad Fizal Fakhri, S.Pd., Assistant Professor at Uinsa, Activist, Media Team of Uinsa Postgraduate Program

TIMES SURABAYA, SURABAYA – Setelah umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan penuh suka cita, ada satu tradisi yang tetap lestari hingga saat ini, yaitu tradisi Kupatan. Tradisi ini umumnya dirayakan pada hari ketujuh setelah Idul Fitri, yang sering disebut dengan "Lebaran Ketupat". 

Bagi masyarakat Jawa, Madura, dan beberapa daerah lain di Indonesia, tradisi ini bukan sekadar perayaan tambahan setelah Idul Fitri, tetapi memiliki makna filosofis yang dalam serta relevansi yang masih kuat di era modern ini.

Asal Usul dan Makna Tradisi Kupatan

Tradisi Kupatan diyakini berakar dari ajaran Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Jawa. Sunan Kalijaga memperkenalkan konsep "Bakda Lebaran" dan "Bakda Kupat" sebagai cara untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang makna Idul Fitri. 

Jika Idul Fitri dirayakan dengan saling memaafkan, maka Bakda Kupat menjadi momen refleksi diri dan kelanjutan dari semangat silaturahmi yang telah dijalin sebelumnya.

Kata "kupat" sendiri berasal dari bahasa Jawa "ngaku lepat" yang berarti "mengakui kesalahan". Ini menggambarkan pentingnya sikap rendah hati dalam meminta maaf dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang selama setahun terakhir. 

Selain itu, ketupat juga memiliki simbolisme filosofis. Bentuk anyaman daun kelapa yang membungkus beras melambangkan kompleksitas kehidupan manusia dengan segala kesalahan dan kekeliruan. 

Sementara itu, nasi putih yang ada di dalamnya melambangkan kebersihan hati setelah menjalani ibadah puasa dan saling memaafkan.

Kupatan dalam Perspektif Sosial dan Budaya

Di banyak daerah di Indonesia, Lebaran Ketupat dirayakan dengan berbagai kegiatan sosial seperti kenduri, doa bersama, serta berbagi makanan dengan tetangga dan kerabat. 

Tradisi ini juga sering dikaitkan dengan nilai gotong royong, di mana masyarakat bersama-sama menyiapkan hidangan ketupat dan lauk-pauk lainnya. Ini menunjukkan bahwa Kupatan bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk mempererat solidaritas sosial.

Dalam beberapa budaya lokal, Kupatan juga diisi dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian dan ziarah kubur. Hal ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai spiritual tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi ini. 

Tidak hanya itu, dalam beberapa daerah seperti di Lombok, tradisi Lebaran Ketupat bahkan berkembang menjadi festival yang menarik banyak wisatawan.

Relevansi Tradisi Kupatan di Masa Kini

Di era modern yang serba cepat dan digital, relevansi dari tradisi Kupatan tetap kuat dan bahkan semakin dibutuhkan. Ada beberapa alasan mengapa tradisi ini tetap relevan:

Pertama, Memperkuat Ikatan Sosial. Dalam kehidupan modern, terutama di perkotaan, interaksi sosial sering kali berkurang akibat kesibukan individu dan perkembangan teknologi. 

Tradisi Kupatan menjadi momen untuk kembali membangun kedekatan dengan keluarga dan masyarakat sekitar. Ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan silaturahmi tetaplah hal yang penting.

Kedua, Menjaga Kearifan Lokal. Di tengah gempuran globalisasi, banyak tradisi lokal yang mulai pudar. Kupatan menjadi salah satu bentuk warisan budaya yang tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Dengan terus melestarikan tradisi ini, kita juga turut menjaga identitas budaya bangsa.

Ketiga, Nilai Reflektif dan Pembelajaran. Tradisi Kupatan bukan sekadar makan ketupat bersama, tetapi juga memiliki makna reflektif. Mengakui kesalahan, saling memaafkan, dan memulai kembali hubungan yang lebih baik adalah nilai-nilai yang sangat dibutuhkan di era modern, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.

Keempat, Menjaga Tradisi Berbagi dan Kepedulian. Lebaran Ketupat sering kali menjadi momen berbagi makanan dengan orang lain, baik kepada tetangga, saudara, atau mereka yang membutuhkan. Ini sejalan dengan semangat berbagi dalam Islam dan ajaran-ajaran luhur masyarakat Nusantara yang mengutamakan kebersamaan.

Kelima, Memperkuat Religiusitas. Setelah sebulan penuh berpuasa, ditambah dengan enam hari puasa Syawal, Kupatan menjadi momen penutup yang memperkuat spiritualitas umat Islam. Ini bisa menjadi pengingat bahwa semangat Ramadan dan Syawal tidak berakhir setelah Idul Fitri, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

Pelestarian Tradisi Kupatan di Masa Depan

Agar tradisi Kupatan tetap lestari, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat, pemerintah, dan generasi muda: Pertama, Mengadakan Festival Budaya. Festival Lebaran Ketupat bisa dijadikan agenda tahunan, baik di tingkat desa maupun kota, untuk menarik minat masyarakat dan wisatawan.

Kedua, Menggunakan Media Digital. Di era media sosial, tradisi Kupatan dapat diperkenalkan melalui berbagai platform digital agar semakin dikenal oleh generasi muda dan masyarakat luas.

Ketiga, Mengedukasi Generasi Muda. Orang tua dan guru dapat mengenalkan makna filosofis dari Kupatan kepada anak-anak agar mereka memahami nilai-nilai di balik tradisi ini.

Keempat, Menyesuaikan dengan Perkembangan Zaman. Tradisi ini bisa tetap dijalankan dengan cara-cara yang lebih fleksibel, misalnya dengan mengadakan silaturahmi virtual atau berbagi ketupat melalui layanan pengiriman makanan bagi mereka yang tidak bisa bertemu langsung.

Tradisi Kupatan yang dirayakan pada hari ketujuh setelah Idul Fitri bukan hanya sekadar perayaan tambahan, tetapi memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Indonesia. 

Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap memiliki relevansi yang kuat, terutama dalam menjaga ikatan sosial, melestarikan budaya, serta menanamkan nilai reflektif dan kebersamaan. 

Oleh karena itu, melestarikan tradisi Kupatan adalah salah satu cara kita menjaga warisan budaya dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan modern. Semoga tradisi ini tetap lestari dan terus memberikan makna bagi generasi mendatang.

***

*) Oleh : Ahmad Fizal Fakhri, S.Pd., Assistant Professor at Uinsa, Activist, Media Team of Uinsa Postgraduate Program.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Surabaya just now

Welcome to TIMES Surabaya

TIMES Surabaya is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.