https://surabaya.times.co.id/
Opini

Daly City: Kebohongan Kecil yang Manusiawi

Senin, 12 Januari 2026 - 11:10
Daly City: Kebohongan Kecil yang Manusiawi Asvin Ellyana, Jurnalis Projectarek.id.

TIMES SURABAYA, SURABAYA – Daly City adalah film pendek yang tidak berisik, tidak tergesa memikat, dan tidak sibuk memamerkan konflik besar. Ia berjalan pelan, hampir seperti seseorang yang sedang menimbang-nimbang kata sebelum berbicara jujur. 

Namun justru dalam ketenangan itulah film ini menyimpan gugatan moral yang tajam: tentang bagaimana kejujuran perlahan menjadi barang mewah ketika seseorang hidup sebagai pendatang, sebagai minoritas, sebagai “orang lain” di tanah yang bukan miliknya.

Film ini tidak menjual Amerika sebagai mitos keberhasilan, juga tidak menjadikannya panggung keajaiban sosial. Amerika dihadirkan sebagai ruang adaptasi yang keras, sunyi, dan menuntut kompromi batin. 

Identitas tidak runtuh secara dramatis, tetapi terkikis sedikit demi sedikit melalui pilihan kata, sikap tubuh, dan kebohongan-kebohongan kecil yang mula-mula terasa wajar, lalu menjadi kebiasaan. Di titik inilah Daly City menemukan kekuatannya: ia tidak menghakimi kebohongan, tetapi menelanjangi logikanya.

Tokoh Bastian, anak kecil yang menjadi pusat cerita, bukan sekadar karakter pelengkap. Ia adalah cermin paling jujur dari proses sosial yang dialami keluarga migran: belajar menyesuaikan diri sebelum sempat memilih. 

Pada dirinya, kebohongan tidak lahir dari niat buruk, melainkan dari kebutuhan untuk aman, diterima, dan tidak dipermalukan. Ia belajar bahwa kejujuran, dalam situasi tertentu, bisa menjadi risiko sosial. 

Inilah argumen utama film ini: bahwa dalam sistem sosial yang tidak sepenuhnya ramah, kejujuran sering kali dikalahkan oleh kebutuhan bertahan.

Kebohongan dalam Daly City bukan kejahatan moral yang hitam-putih. Ia hadir sebagai mekanisme perlindungan. Seperti jaket tipis di musim dingin: tidak ideal, tidak sepenuhnya menghangatkan, tapi lebih baik daripada menggigil sendirian. Film ini dengan tenang mengatakan bahwa manusia tidak selalu berbohong karena ingin menipu, tetapi karena takut tersingkir.

Pilihan penyutradaraan yang lembut dan minim ledakan dramatik memperkuat pesan ini. Kamera jarang menghakimi. Dialog dibiarkan mengalir seperti percakapan rumah tangga biasa, dengan campuran bahasa Indonesia dan Inggris yang terasa canggung namun jujur. 

Tidak ada musik berlebihan, tidak ada sudut kamera yang memaksa emosi. Semua terasa seperti hidup yang memang berjalan demikian: datar, repetitif, namun menyimpan tekanan psikologis yang terus menumpuk.

Film ini juga secara halus mengajukan kritik terhadap romantisasi diaspora. Ia tidak menyangkal bahwa hidup di luar negeri memberi peluang, tetapi menunjukkan biaya sosialnya: keterputusan budaya, kecanggungan identitas, dan kompromi nilai yang perlahan mengaburkan batas antara siapa diri kita dan siapa yang diharapkan orang lain.

Adegan-adegan kecil makan dengan tangan, memasak makanan Indonesia, percakapan keluarga yang sederhana bukan sekadar ornamen budaya. Ia adalah perlawanan paling sunyi: usaha mempertahankan keutuhan diri di tengah tuntutan untuk menyesuaikan diri. Ketika ruang publik menuntut keseragaman, dapur menjadi benteng terakhir identitas.

Namun film ini tidak jatuh pada glorifikasi nostalgia. Ia justru memperlihatkan betapa rapuhnya identitas ketika harus terus dinegosiasikan. Bahkan di rumah sendiri, karakter-karakternya tidak sepenuhnya bebas menjadi diri mereka sendiri. Ada kekhawatiran konstan: tentang dianggap aneh, dianggap berbeda, atau dianggap tidak pantas.

Di sinilah Daly City menjadi lebih dari sekadar film keluarga diaspora. Ia berubah menjadi refleksi sosial tentang bagaimana sistem sosial modern di mana mobilitas, migrasi, dan kompetisi menjadi norma mendorong manusia untuk menyesuaikan diri bukan dengan jujur, tetapi dengan aman.

Film ini seolah bertanya: jika kejujuran membuatmu terpinggirkan, apakah kebohongan masih bisa disebut kesalahan?

Pertanyaan ini tidak dijawab secara eksplisit. Tetapi jawabannya mengendap di sepanjang cerita: bahwa moralitas tidak selalu hidup di ruang steril. Ia tumbuh di tengah tekanan ekonomi, status sosial, diskriminasi halus, dan rasa takut kehilangan tempat.

Menariknya, film ini juga menyadari keterbatasannya. Bagi sebagian penonton Indonesia, dunia yang ditampilkan terasa jauh, dingin, dan kurang familiar. Identitas “Indonesia”-nya tidak hadir dalam bentuk folklor yang kuat, melainkan dalam potongan kecil yang nyaris tak disadari. 

Ini bisa dibaca sebagai kelemahan, tetapi juga sebagai pernyataan jujur: diaspora memang hidup di wilayah antara tidak sepenuhnya Indonesia, tidak sepenuhnya Amerika. Keterasingan itu bukan cacat naratif, melainkan konsekuensi logis dari pengalaman migrasi itu sendiri.

Daly City tidak menawarkan solusi besar. Ia tidak mengajarkan cara hidup yang benar, tidak pula memberi resep moral. Yang ia lakukan adalah mengingatkan kita bahwa di balik statistik migrasi, visa kerja, dan narasi sukses global, ada manusia-manusia yang setiap hari bernegosiasi dengan nuraninya sendiri.

Film ini memilih untuk berdiri di sisi mereka orang-orang yang bertahan bukan dengan heroisme, tetapi dengan kebohongan kecil yang manusiawi. Dan justru di sanalah kejujuran terbesar film ini berada: bukan pada pengakuan yang lantang, melainkan pada keberanian untuk mengatakan bahwa kadang, untuk tetap hidup waras, manusia harus sedikit berdusta.

 

***

*) Oleh : Asvin Ellyana, Jurnalis Projectarek.id.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Surabaya just now

Welcome to TIMES Surabaya

TIMES Surabaya is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.