https://surabaya.times.co.id/
Opini

Mozaik Hasrat yang Membusuk

Senin, 05 Januari 2026 - 12:57
Mozaik Hasrat yang Membusuk Jiphie Gilia Indriyani, Dosen Prodi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya.

TIMES SURABAYA, SURABAYA – Film Frankenstein yang rilis tahun 2025 garapan Guillermo del Toro bukanlah sekadar perayaan visual lanskap kota masa lalu. Lebih dari itu, film ini adalah sebuah otopsi atas ego manusia. Jika versi-versi sebelumnya terlalu sibuk dengan percikan listrik dan teriakan ‘It’s alive, Del Toro membawa kita ke ruang bawah yang lebih gelap, psike Victor Frankenstein (Oscar Issac). 

Di sana, kita tidak menemukan ilmuwan jenius yang gemilang, melainkan seorang kolektor kegagalan yang mencoba merangkai masa lalu menjadi masa depan melalui tumpukan mayat.

Secara struktural, film ini adalah sebuah mahakarya narasi berbingkai. Kita tidak hanya disuguhi satu narasi linear, melainkan dua sisi kebenaran yang saling bertabrakan. Di satu sisi, ada bingkai Victor sebagai sebuah pengakuan dosa yang narsistik. 

Victor memposisikan diri sebagai korban sains yang kebablasan bercerita dari daerah paling beku di kutub. Sedangkan di bingkai kedua kita masuk ke perspektif sang Makhluk (Jacob Elordi), menjadikan bingkai Victor runtuh. 

Ini adalah dual-framed narrative yang brilian. Bingkai sang Makhluk bertindak sebagai dekonstruksi atas kebohongan Victor. Jika Victor bercerita tentang ‘penciptaan’, sang Makhluk bercerita tentang ‘pengabaian’. Keindahan tragis dari struktur ini memaksa penonton untuk terus berganti posisi, berganti-ganti posisi dari Victor ke Makhluk. 

Sebagai penonton, kita terjebak dalam labirin dua labirin yang saling menghakimi, satu sisi merefleksikan wajah sang pencipta yang lumpuh oleh horor eksistensialnya sendiri, sementara sisi lain memantulkan wajah ciptaannya yang meratap dalam kerinduan yang purba. Keduanya adalah paradoks yang absolut, sebuah kesatuan patologis yang mustahil dipilah.

Menjahit Kematian menjadi Keberadaan

Sorotan utama yang paling mematikan dalam film ini adalah hakikat fisik sang Makhluk itu sendiri. Ia adalah sebuah mozaik. Secara metaforis, sang Makhluk adalah manifestasi Victor sebagai creator yang gagal move-on. Victor tidak memilih bagian tubuh secara acak, ia memilih potongan-potongan tubuh yang sesuai dengan keinginannya. 

Potongan-potongan tubuh ini yang merepresentasikan elemen-elemen hasratnya yang telah mati, yang ia coba hidupkan lagi. Setiap organ, setiap fragmen kulit, dan setiap jahitan adalah artefak dari ambisi Victor yang kandas. 

Ada fragmen yang mewakili kerinduannya pada kasih sayang ibu yang hilang, ada bagian yang mewakili egonya untuk menaklukkan alam, dan ada otot-otot yang merepresentasikan kekuatannya yang memudar. Sang Makhlik adalah sebuah kolase dari segala hal yang seharusnya tetap terkubus namun dipaksa bangun oleh obsesi. 

Secara puitis, ini adalah bentuk romansa yang sangat terdistorsi. Victor mencintai ‘ide’ tentang menghidupkan kembali apa yang sudah hilang, namun ia muak pada hasil yang ada. 

Ini adalah tragedi, manusia sering kali jatuh cinta pada bayangan tentang sesuatu, tapi ketakutan setengah mati ketika bayangan itu mewujud dan menuntut haknya untuk dicintai secara timbal balik. Sang Makhluk bukanla monster karena rupa fisiknya, melainkan sebuah cermin yang terlalu jujur bagi Victor. 

Dari perspektif Jungian, Jacob Elordi memerankan The Shadow, bayangan kolektif Victor dengan sangat liris. Sang Makhluk adalah personifikasi dari segara hal yang tidak berani diakui Victor sebagai miliknya. Victor adalah sang Ego yang berusaha terlihat rapi, intelek, dan beradab di permukaan masyarakat. 

Sementara itu, sang Makhluk adalah Id yang murni, penuh kemarahan, kebutuhan akan kasih sayang yang primitif, dan kejujuran emosional yang brutal. Tragedi utamanya adalah ketidakmampuan Victor untuk melakukan proses ‘individuasi’, ia tidak mampu merangkul bayangannya sendiri, sehingga bayangan tu akhirnya menelannya bulat bulat di keheningan es kutub. 

Romansa dalam film ini berdenyut di bawah lapisan kulit yang pucat. Bukan sekadar hubungan Victor dengan Elizabeth, melainkan hubungan obsesif-kompulsif antara sang pencipta dan ciptaan. 

Ada semacam dark romance yang tidak sehat di sini, sebuah ikatan yang kuat yang hanya bisa berakhir dengan kehancuran keduanya. Ikatan ini dibangun bukan atas pilihan, melainkan atas kepemilikan. Sang Makhluk menginginkan cinta selayaknya manusia lainnya, menginginkan kehangatan yang wajar. 

Hasrat yang manusiawi. Namun ironi pahitya terletak pada fakta bahwa keinginan tersebut merupakan proyeksi terdalam Victor sendiri, hasrat seorang anak yang sejak kecil gagal memperoleh pengakuan dan kasih sayang dari ayahnya. 

Dengan demikian, sang Makhluk berfungsi sebagai manifestasi psikis Victor, tubuh luar dari luka batin yang tak pernah selesai. Ketika Makhluk itu menuntuk cinta dan pengakuan, Victor merespon dengan penolakan, sebab yang ia hadapi sesungguhnya adalah kekosongan dirinya sendiri. 

Selain romansa antara pencipta dan ciptaan, film ini juga menampilkan konfigurasi romansa lain yang jauh lebih subtil sekaligus kejam; romansa yang tersesat berkelindan antara William, Elizhabeth, Victor, dan Sang Makhluk. 

William mencintai Elizhabet tanpa tendensi, sebuah bentuk cinta yang belum tercemar ambisi. Kepolosan itulah yang menarik bagi Victor, sebagai pengingat tentang bagaimana cinta bekerja tanpa syarat dan tanpa prestasi. 

Dalam struktur ini, William bukan sekadar adik, melainkan bayangan dari Victor yang tak pernah sempat tumbuh, sebagai sosok yang dicintai tanpa harus membuktikan apapun. 

Elizhabet berdiri sebagai poros yang terus-menerus diperebutkan tetapi tidak pernah benar-benar dimiliki. Ia mencintai Victor, namun cintanya bersaing dengan obsesi ilmiah dan luka masa kecil Victor yang belum selesai. 

Sang Makhluk masuk ke dalam simpul ini sebagai residu yang tak dapat dihindari. Ia mengamati cinta William kepada Elizhabeth kemudian melihat kemungkinan hidup yang tak ia miliki. Kekerasan yang ia lakukan bukan sekadar tindakan balas dendam, melainkan gesture keputusasaan memasukin romansa kehidupan manusia. 

Victor menjadi pusat ironi dari keseluruhan masalah ini. Ia menginginkan cinta Elizhabeth, merindukan kasih sayah ayahnya, cemburu pada kemurnian William, dan mengingkari tuntutan Sang Makhluk, padahal keempat relasi tersebut berakar dari satu kegagalan yaitu ketidakmampuan mencintai tanpa syarat. 

Maka romansa di film ini bukanlah soal siapa mencintai siapa, melainkan tentang bagaimana cinta terus-menerus gagal menjadi ruang aman, justru berubah menjadi medan reproduksi trauma. Pengemasan ‘monster’ dalam narasi Frankenstein kali ini tidak dalam wujud makhluk mengerikan, melainkan sifat afektif yang retak. 

Film ini akhirya ditutup dengan sebuah pengakuan walaupun datang terlambat. Victor melepaskan posisinya sebagai pencipta, ilmuwan, dan pemilik lalu berbicara sebagai manusia. Permohonan maaf itu sederhana, nyaris banal, tetapi justru karena itulah ia terasa begitu menyakitkan. Ia adalah permohonan maaf yang seharusnya diucapkan sejak awal. 

Sebuah pengakuan bahwa penciptaan tidak pernah berhenti pada momen melahirkan, melainkan dimulai dari kesediaan merawat. Ketika Victor menyebut sang Makhluk sebagai anak, film ini mencapai titik emosional dan ideologinya sekaligus. Sebab kata itu adalah kata yang selama ini dihindari, kata yang membuat Victor rapuh. 

Dengan demikian, permohonan maaf tersebut bukan hanya berasa dari penyesalan personal, melainkan pengakuan atas kegagalan relasi paling mendasar-relasi antara pencipta dan ciptaan, antara ayah dan anak. 

Seperti semua pengakuan yang datang terlambat, kata ‘maaf’ di sini tidak menyelamatkan siapa pun. Ia hanya berfungsi sebagai epilog pahit yang mengingatkan kita bahwa cinta dan tanggung jawab emosional tidak bisa ditunda hingga kehancuran tak dapat dibatalkan.

Frankenstein 2025 versi Guillermo del Toro menutup kisahnya dengan pelajaran getir: monster tidak lahir karena penciptaan yang salah, ia lahir karena cinta yang tak pernah benar-benar diberikan. (*)

***

*) Oleh : Jiphie Gilia Indriyani, Dosen Prodi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Surabaya just now

Welcome to TIMES Surabaya

TIMES Surabaya is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.