FIKOM Universitas Ciputra Gelar 5th CFF, Produser Robert Ronny Bedah Rahasia Industri Film Nasional
Para mentor dalam festival film 5th CFF di Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya, Rabu (3/6/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

FIKOM Universitas Ciputra Gelar 5th CFF, Produser Robert Ronny Bedah Rahasia Industri Film Nasional

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra (FIKOM UC) menggelar 5th Ciputra Film Festival (CFF). Produser Robert Ronny hadir membedah peluang karier industri film.

TIMES Surabaya,Rabu 3 Juni 2026, 22:29 WIB
664
L
Lely Yuana

Surabaya – Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra (FIKOM UC) menggelar 5th Ciputra Film Festival (CFF) di Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya, Rabu (3/6/2026). Festival film bergengsi yang bertepatan dengan perayaan Dies Natalis FIKOM UC ini menghadirkan sederet sineas kaliber nasional dalam sesi diskusi interaktif.

Produser ternama tanah air, Robert Ronny, membuka panggung CFF melalui sesi Expert Session bertajuk "Film Industry Unlocked: Perspektif Production House & Peluang Karir". Pada kesempatan itu, ia membedah kegelisahan para sineas muda lokal, mulai dari tantangan menembus pasar komersial, ketatnya persaingan ide, hingga manajemen internal rumah produksi (production house) yang selama ini jarang diketahui kreator daerah

Robert Ronny membagikan pandangan berharga untuk memantik motivasi peserta melalui sebuah analogi industri.

article
Peserta mengajukan sejumlah pertanyaan seputar industri perfilman dalam ajang diskusi festival film 5th CFF di Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya, Rabu (3/6/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

"Kalau kalian pakai pesugihan suruh babi ngepet cari Rp250 miliar dalam waktu 6 bulan, nggak bakal bisa. Film 'Agak Laen' modal Rp18 miliar bisa dapat Rp250 miliar di bioskop dalam 6 bulan," ujarnya.

"Nggak ada bisnis semenggiurkan itu. Jadi, kalau orang tua kalian tanya mau makan apa kerja seni? Kasih tahu kalau industri film lebih menguntungkan daripada restoran atau toko," ucap Robert disambut tawa audiens.

Suasana diskusi semakin hidup saat sesi tanya jawab dibuka. Berbagai pertanyaan tajam terlontar dari audiens, merefleksikan kegelisahan nyata yang dihadapi para sineas muda. Salah satu topik yang menarik perhatian adalah mengenai selera pasar dan genre yang paling memikat penonton di Indonesia agar dapat dilirik oleh jaringan bioskop besar.

Robert Ronny merespons hal tersebut dengan memaparkan fakta lapangan mengenai preferensi penonton lokal.

"Orang Indonesia itu suka banget horor. Saya pribadi nggak masalah dengan genre horor, selama menawarkan sesuatu yang baru. Selain itu, komedi dan drama atau romcom (romantic comedy) juga punya peminat yang besar. Tapi kuncinya, nggak usah bingung mikirin siapa yang bakal nonton. Selama kalian bikin film bagus, penonton pasti akan datang," jelasnya.

Selain membahas selera pasar, sesi Expert Session ini juga mengulas pentingnya membangun relasi dan memulai langkah awal bagi kreator pemula. Robert memberikan dorongan kuat bagi generasi muda agar tidak terkendala oleh keterbatasan modal. Menurutnya, kreator muda dapat mulai membangun tim, mengambil gambar menggunakan smartphone, membuat film pendek, lalu mengunggahnya ke platform YouTube.

"Kameranya sudah HD, ngedit sudah gampang. Wregas (Bhanuteja) juga awalnya mulai dari film pendek," katanya memberikan contoh.

Keseruan festival berlanjut hingga malam melalui agenda Special Screening bertajuk "Synergy Pieces", yang merupakan karya kolaborasi antara CFF dan Studio Cerita Mojokerto. Melalui pemutaran film dan diskusi interaktif pasca-pemutaran, pesan dalam film tersebut berhasil tersampaikan secara hangat kepada penonton, sekaligus memicu pertukaran perspektif baru.

Rangkaian acara yang padat dari siang hingga malam ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Salah satunya adalah Faithniel Eleazar Cornelius Polla, yang merasa topik pada sesi tanya jawab sangat relevan dengan realitas yang dihadapi kreator daerah.

Senada dengan hal itu, Cahaya Annisa Susanto, mahasiswi FIKOM angkatan 2025, juga membagikan sudut pandangnya. Baginya, pemaparan pada hari pertama CFF ini menjadi pemicu untuk bergerak lebih berani tanpa harus terpaku pada jalur festival konvensional.

"Harus berani nunjukkin karyanya, nggak cuma ikut festival tapi bisa dari sosial media juga," ungkap Cahaya.

Menutup hari pertama, para pengunjung disuguhkan dengan berbagai stan di area festival, mulai dari booth suvenir (merchandise) eksklusif CFF hingga area foto dengan latar belakang poster-poster film. Ajang Ciputra Film Festival ini dijadwalkan akan berlangsung selama lima hari berturut-turut. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Lely Yuana
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Surabaya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.