Hantavirus Mengancam, Dosen ITS Imbau Masyarakat Waspadai Penularan Lewat Tikus
Zulistian Nurul Hidayati dr SpPD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Dosen FKK ITS, memberikan edukasi mengenai bahaya penularan hantavirus dan pentingnya menjaga sanitasi lingkungan. (Foto: ITS for TIMES Indonesia)

Hantavirus Mengancam, Dosen ITS Imbau Masyarakat Waspadai Penularan Lewat Tikus

Dosen FKK ITS, dr. Zulistian Nurul Hidayati, Sp.PD., mengimbau kewaspadaan terhadap Hantavirus pasca kasus di kapal pesiar Argentina.

TIMES Surabaya,Selasa 12 Mei 2026, 18:16 WIB
1K
Z
Zisti Shinta Maharani

SURABAYADunia internasional tengah dikejutkan dengan munculnya kasus hantavirus di atas kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Insiden ini memicu kekhawatiran global setelah sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akut, bahkan hingga menyebabkan korban jiwa.

​Di dalam negeri, ancaman ini bukan sekadar isu luar negeri. Tercatat sebanyak 23 kasus hantavirus telah teridentifikasi pada manusia di Indonesia sejak tahun 2024. Menanggapi fenomena ini, dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Zulistian Nurul Hidayati dr SpPD, mengimbau masyarakat untuk kembali meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis ini.

​Menurut Zulistian, hantavirus memiliki mekanisme penularan yang sangat spesifik melalui hewan pengerat, terutama tikus. Interaksi manusia dengan kotoran tikus yang telah terkontaminasi menjadi jembatan utama penyebaran virus ini.

​“Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel pada kotoran tikus dan juga kontak langsung dengan hewan pengerat,” jelas Dokter Spesialis Penyakit Dalam tersebut dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026) 

​Zulistian menekankan bahwa tantangan terbesar dalam menghadapi hantavirus adalah gejalanya yang menyerupai flu biasa (flu-like symptoms), seperti batuk, demam, dan nyeri otot. Hal ini seringkali membuat pasien terlambat menyadari tingkat keparahan infeksi yang dialaminya.

​“Oleh karena itu, tidak bisa hanya diagnosis dari gejala klinis, perlu adanya pemeriksaan diagnostik penunjang dengan pemeriksaan di lab,” tambahnya.

​Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa paparan virus ini dapat berujung pada dua kondisi fatal: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memicu demam berdarah disertai gangguan ginjal akut.

​Meski memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, masyarakat diminta tidak panik secara berlebihan. Zulistian menegaskan bahwa karakteristik penyebaran hantavirus tidak semasif COVID-19. Kunci utamanya terletak pada kebersihan lingkungan, terutama di wilayah pemukiman padat penduduk dengan sanitasi yang buruk.

​“Beberapa langkah perlindungan dapat dengan menggunakan masker dan sarung tangan agar terhindar dari kontak langsung dengan kotoran tikus,” pungkasnya menutup edukasi tersebut. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Zisti Shinta Maharani
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Surabaya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.