Berita

Anak Petani Tembakau Indonesia Gaungkan Stop Merokok, Ini Alasannya

Rabu, 16 Juni 2021 - 22:14
Anak Petani Tembakau Indonesia Gaungkan Stop Merokok, Ini Alasannya Ilustrasi - pria perokok aktif. (FOTO: dok. Times Indonesia)

TIMES SURABAYA, SURABAYA – Sejumlah anak petani tembakau Indonesia dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat terlibat dalam gerakan commit to quit (komitmen berhenti merokok).

Hal tersebut dilakukan seiring dengan perkembangan riset yang dilakukan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma).

Petani penghasil tembakau di Indonesia saat ini tercatat sejumlah 526.389 keluarga atau setara 2,6 juta orang. Jumlah anak-anak petani pun masuk dalam golongan prevalensi merokok di kalangan remaja dan anak yang mencapai lebih dari 8%.

Meski riset MTCC Unimma menunjukkan bahwa petani tidak menghendaki anak-anak mereka menjadi perokok, namun gempuran iklan dan kurangnya kebijakan pengendalian tembakau melemahkan keinginan ini.

Belum lagi selain resiko kesehatan, banyak aspek pertanian tembakau di Indonesia yang menimbulkan resiko signifikan bagi kesehatan dan keselamatan anak-anak petani tembakau.

Rokok-2.jpg

Beberapa anak yang diwawancarai melaporkan gejala masalah pernapasan, gangguan kulit dan iritasi mata saat bekerja di pertanian tembakau. Oleh karenanya, anak-anak petani tembakau tersebut menyatakan komitmen untuk berhenti merokok dalam gerakan commit to quit.

Hal tersebut penting untuk terus digencarkan menimbang hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 yang menunjukkan prevalensi perokok usia 10-18 mencapai 9,1 persen. Angka tersebut naik dari 7,2 persen pada tahun 2013.

Hasil penelitian PKGR tahun 2019 juga menunjukkan sebanyak 32,1 persen siswa Indonesia di rentang usia 10-18 tahun pernah mengonsumsi rokok. Saat ini lebih dari 32% dari total populasi Indonesia adalah perokok aktif.

Maka apabila kisaran penduduk Indonesia adalah 260 juta, maka jumlah perokok aktif mencapai lebih dari 78 juta. Artinya dua dari tiga laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok aktif.

Jumlah perokok anak dan remaja menunjukkan angka keprihatinan yang lebih lagi. Tingkat prevalensi anak dan remaja yang merokok tercatat lebih dari 8%.

Berangkat dari fenomena ini, MTCC Unimma pada Rabu (16/6/2021) menyelenggarakan Talkshow Berani Berhenti Merokok dengan tujuan menggugah kesadaran tentang efek bahaya konsumsi rokok dan paparan asap rokok, serta mencegah penggunaan rokok dalam bentuk apapun (cq e-cigarret, vape) khususnya untuk anak-anak.

Lebih jauh lagi, MTCC UNIMMA mendesak perlunya sikap tegas pemerintah Indonesia pada pelaku industri rokok. Tujuan global HTTS tahun 2021 ini adalah commit to quit, meraih komitmen 100 juta perokok berhenti merokok untuk menjawab tantangan pandemi Covid-19.

Ditambah lagi, tantangan besar pandemi Covid-19 adalah upaya peningkatan derajat masyarakat dan dampaknya pada sistem kesehatan. Covid-19 yang ditetapkan Pemerintah sebagai bencana non alam pada Maret 2020, jelas memberikan dampak besar bagi perekonomian masyarakat.

Perokok lebih rentan terinfeksi dan bahkan meninggal akibat Covid-19. Tembakau sebagai bahan dasar rokok juga merupakan faktor resiko utama penyakit tidak menular (penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit pernapasan dan diabetes).

Orang yang hidup dengan kondisi ini lebih rentan terhadap Covid-19 yang parah. Maka dari itu, butuh kewaspadaan ekstra bagi perokok untuk berhenti dan dibutuhkan upaya preventif bagi anak-anak dan remaja agar tidak tegiur mecicipi rokok.

Sejumlah anak petani tembakau Indonesia dan peserta commit to quit meyakini gerakan ini dapat membantu menciptakan lingkungan yang sehat dan kondusif. (*)

Pewarta : Ammar Ramzi (MG-235)
Editor : Faizal R Arief
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Surabaya just now

Welcome to TIMES Surabaya

TIMES Surabaya is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.