TIMES SURABAYA, SURABAYA – Kota Surabaya kian meneguhkan diri sebagai tujuan pariwisata metropolitan. Bangunan-bangunan megah peninggalan sejarah turut menjadi magnet bagi wisatawan.
Mereka bukan hanya ingin mengabadikan momen semata, tetapi juga ingin berkeliling menikmati keindahan kota. Mobilitas wisatawan tentu membutuhkan dukungan sarana transportasi umum yang tidak sekadar mengantar, tetapi juga meninggalkan kenangan tersendiri. Seperti moda transportasi becak yang cukup dikenal masyarakat tapi dengan sentuhan teknologi.
Gayung bersambut saat Presiden Prabowo melalu Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) memberikan bantuan becak listrik 200 unit kepada Pemerintah Kota Surabaya.
Sarana transportasi ini kemudian diserahkan langsung kepada warga yang sebelumnya memang berprofesi sebagai penarik becak.

Mereka akan beralih dari becak manual roda kayuh menjadi pengendali becak listrik. Usia mereka beragam, bahkan ada yang sudah berumur 75 tahun. Tetapi, semangat mengayuh demi nafkah keluarga masih menyala.
Menanggapi bantuan tersebut, Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Cahyo Harjo Prakoso menilai, bantuan 200 unit becak listrik bagi tukang becak di Kota Surabaya berpotensi memberikan dampak nyata terhadap upaya pengentasan kemiskinan, khususnya bagi pekerja sektor informal lanjut usia. Sekaligus mengintegrasikan pariwisata di Kota Surabaya.
“Atas nama pribadi dan mewakili masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya, kami mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto. Bantuan becak listrik ini menunjukkan kepedulian beliau kepada masyarakat miskin dan kelompok lansia yang masih harus bekerja keras,” kata Cahyo usai acara penyerahan bantuan becak listrik di Surabaya, Kamis (22/1/2026).
Cahyo menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto atas kepedulian terhadap masyarakat berpenghasilan rendah, terutama para tukang becak yang mayoritas telah berusia lanjut dan masih harus bekerja dengan mengandalkan tenaga fisik.
Menurutnya, program becak listrik tersebut merupakan langkah strategis karena menyasar kelompok rentan, yakni tukang becak berusia 60 hingga 70 tahun ke atas yang selama ini menggantungkan hidup dari pekerjaan yang menguras tenaga.
Ia berharap kehadiran becak listrik mampu meningkatkan produktivitas para tukang becak sekaligus menjadi penyemangat untuk memperbaiki taraf ekonomi mereka secara berkelanjutan.
Cahyo juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Surabaya yang berkomitmen memfasilitasi operasional becak listrik dengan penataan rute serta integrasi dengan sektor pariwisata.
“Becak listrik ini nantinya akan diarahkan pada rute-rute strategis dan terintegrasi dengan pariwisata Kota Surabaya. Harapannya, pariwisata meningkat, pendapatan tukang becak naik, dan muncul efek berganda bagi perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Terkait pengawasan, Cahyo memastikan DPRD bersama Pemerintah Kota Surabaya akan melakukan monitoring secara berkala agar bantuan tersebut benar-benar produktif dan tepat sasaran.
Lanjutnya, monitoring akan melibatkan pemerintah kota, DPRD, yayasan, serta unsur kewilayahan seperti Babinsa dan Dandim.
Hal ini untuk memastikan penggunaan becak listrik sesuai harapan dan mengatasi kendala, termasuk adaptasi teknologi.
Ia menambahkan, becak listrik yang memiliki ukuran cukup besar dinilai nyaman dan multifungsi, baik untuk angkutan harian masyarakat maupun mendukung aktivitas wisata.
“Becaknya besar dan kuat, sangat nyaman untuk pariwisata maupun kebutuhan masyarakat dari kampung ke pasar. Ini bisa menjadi model pengembangan transportasi becak yang lebih modern dan manusiawi di Surabaya,” tuturnya.
Cahyo menyebut program serupa telah mulai diterapkan di sejumlah kabupaten/kota lain di Jawa Timur dan diharapkan dapat diperluas sebagai bagian dari kebijakan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil berbasis transportasi ramah lingkungan. (*)
| Pewarta | : Lely Yuana |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |