https://surabaya.times.co.id/
Berita

Cuaca Ekstrem dan Gelombang Tinggi, Nelayan Kabupaten Pacitan Pilih Tak Melaut

Rabu, 09 November 2022 - 17:01
Cuaca Ekstrem dan Gelombang Tinggi, Nelayan Kabupaten Pacitan Pilih Tak Melaut Ratusan perahu nelayan Kabupaten Pacitan tertambat di Pelabuhan Tamperan akibat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi. (FOTO: Yusuf Arifai)

TIMES SURABAYA, PACITANCuaca ekstrem dan gelombang tinggi, para nelayan di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur memilih untuk tidak melaut. Ratusan kapal beberapa hari tertambat parkir di Pelabuhan Tamperan sambil menunggu kondisi kembali aman. 

Pengurus Kapal Pelabuhan Tamperan Maimin (51) mengungkapkan, kondisi seperti ini terjadi sejak sepekan terakhir. Jika dipaksakan melaut, risiko terbesar adalah karam hingga pulang dengan hampa tangan. 

"Anginnya kencang, juga ada terang bulan, 
pernah saya mengalami 3 bulan total tidak bisa melaut," katanya, Rabu (9/11/2022).

Ratusan-perahu-nelayan-Kabupaten-Pacitan-b.jpgAktivitas nelayan saat ini dimanfaatkan untuk memeperbaiki perahu. (FOTO: Yusuf Arifai) 

Cuaca ekstrem selain membayangi keselamatan para nelayan ternyata juga berdampak pada produktivitas di lautan. Hasil tangkapan ikan tidak seperti yang diharapkan, jika memaksakan diri, ongkos sekali melayar sia-sia begitu saja. Saat kondisi normal, nelayan mampu membawa pulang 5 ton dalam sehari. 

"Seperti ini hasilnya tidak tentu, tergantung ikannya ada atau tidak, ongkos sekali berlayar juga tidak murah. Seminggu cuma dapat 4 ton ikan layang dan cakalang kecil-kecil," terang Maimin yang juga nelayan asal Kota Medan. 

Senada dikatakan Supomo, salah seorang nelayan, ia lebih memilih menyandarkan perahunya di dermaga. Tak bisa berbuat banyak selain menunggu keadaan seperti sedia kala. 

"Kalau dipaksa melaut, hasilnya juga nihil. Tak mau ambil resiko, lebih baik istirahat," ujarnya. 

Nelayan asal Cilacap, Jawa Tengah itu mengaku, masa istirahat seperti sekarang diisi dengan memperbaiki peralatan untuk menangkap ikan seperti jaring, selebihnya memperbaiki perahu. 

"Lagi pula, gelombang tinggi membuat ikannya susah ditangkap. Perahu saya masih perlu ditambal," imbuh Supomo. 

Sementara, Kepala UPT Pelabuhan Tamperan Pacitan Budi Setyono membenarkan, kondisi seperti ini ditengarai gelombang pasang yang berada di tengah laut sehingga tidak memungkinkan untuk dilayari nelayan. Alhasil, sementara waktu aktivitas menangkap ikan dihentikan. 

"Kalau sekarang memang masuk musim baratan, yaitu gelombang laut di tengah membesar, sehingga banyak kapal yang tidak  beroperasi," katanya. 

Budi menyebut, hasil tangkapan nelayan juga cenderung menurun lantaran produktivitas laut belum stabil. Namun demikian, nelayan lokal tetap bisa mencari ikan selagi tidak melebihi jarak 12 mil dari daratan. Itu pun yang boleh beroperasi hanya perahu kecil. 

"Dari  9-12 ton per hari, kalau seperti ini berkurang secara drastis. Ratusan kapal nelayan sudah mulai bersandar di pelabuhan," terangnya. 

Ratusan-perahu-nelayan-Kabupaten-Pacitan-c.jpgUPT Perikanan Pelabuhan Tamperan mengecek kelayakan dan izin operasi kapal nelayan. (FOTO: Yusuf Arifai) 

Selain itu, dia memperkirakan, cuaca ekstrem akan berlangsung hingga awal Januari 2023 mendatang. Sedangkan ikan yang biasa ditangkap nelayan saat ini populasinya berkurang. Dari 18 atau 8 kapal, yang berlayar hanya 5 per hari. Itu pun perahu kecil daplangan. 

"Sekarang ikan layang dan cakalang berkurang, sebentar lagi diganti dengan layur. Tapi masih berada di perairan Malang, mungkin segera geser ke Pacitan," jelas Budi Setyono. 

Sejauh ini, di Pelabuhan Tamperan Pacitan, kapal yang sudah terdata di UPT Perikanan sebanyak 444 buah. Guna memastikan semuanya aman, pemerintah kembali gencar melakukan pendataan berkaitan dengan perizinan secara ketat. 

"Intinya kembali agar seluruh ABK selamat dari laka laut. Pendaftar baru harus mengantongi surat izin dan dokumen resmi, resikonya bisa dikembalikan kepada pangkalan asal," paparnya. 

Sebagai informasi dari BMKG Jatim, batas aman nelayan berlayar adalah tidak lebih dari 12 mil. Ketinggian normal gelombang rata-rata 2,5 meter. Selepas itu bisa mencapai 3-5 meter. Nelayan diminta tetap waspada. 

"Tingkat kepatuhannya, kembali ke nelayan lagi, nekat melaut atau parkir sambil menunggu situasi aman," jelas Budi Setyono di UPT Pelabuhan Tamperan Pacitan. (*)

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Surabaya just now

Welcome to TIMES Surabaya

TIMES Surabaya is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.