Rehabilitasi Jantung Melalui Workshop CPET, Telemetry, dan EECP
Dokter spesialis jantung Primasitha Maharani ungkap pasien serangan jantung usia 25 tahun. Ia ingatkan screening mulai 30 tahun, cek laboratorium, tensi. Mini cek apotek tidak bisa deteksi kolesterol jahat.
SURABAYA – Penyakit jantung tak hanya mengintai usia tua, tetapi juga bisa menyerang usia muda. Meskipun golongan penyakit kardiovaskular ini merupakan penyakit degeneratif, tetapi kemunculannya juga dipengaruhi oleh gaya hidup seperti pola makan, aktivitas fisik, dan merokok sebagai faktor risiko pemicu awal gejala.
Dokter spesialis jantung, Primasitha Maharani, dr., Sp.JP mengungkapkan, penyakit jantung sangat berbahaya karena tanpa disadari bisa mengancam nyawa kapan saja, sehingga perlu pemeriksaan kesehatan secara berkala.
"Pemeriksaan kesehatan jantung secara rutin perlu dilakukan sejak dini dan kuncinya tetap terapkan hidup sehat," jelas Primasitha Maharani yang menjadi salah satu narasumber dalam workshop ilmiah bertajuk “Optimizing Cardiac Rehabilitation: Integrating CPET, Telemetry and EECP Therapy into Real-World Practice” di Pramita Laboratorium, Ngagel Surabaya, Sabtu (16/5/2026).
"Screening bisa dimulai dari usia tiga puluh tahun, harus cek laboratorium, harus tensi, paling nggak satu tahun sekali," sambungnya.
Dokter Primasitha bahkan pernah mendapatkan ada pasien yang masih berusia 25 tahun namun sudah mengalami serangan jantung.
Keluhan utama adalah nyeri dada yang seringkali dipicu oleh aktivitas fisik seperti olahraga hingga penyumbatan pembuluh darah. Bisa pula karena stressor lain sebagai dampak faktor emosional tinggi yang memicu terjadinya nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, jantung berdebar, dan bahkan hingga pingsan.

"Padahal sangat bisa kita hindari, kalau kita sudah tahu kita punya faktor risiko, kita screening lebih ketat untuk menanggulangi sebelum terjadi," ungkapnya.
Dokter Primasitha menjelaskan, jumlah pasien khusus cek kardiovaskular di laboratorium saat ini cukup banyak untuk mendapatkan informasi mengenai kadar kolesterol jahat dalam darah. Walaupun pada awalnya, mereka melakukan medical check up umum atau bahkan hanya sekadar cek di apotek.
"Yang saya sering temui, biasanya orang-orang menganggap mini check up di apotek sudah bisa mendeteksi, padahal mini check up tidak bisa mengecek kolesterol jahat," jelasnya.
Pemeriksaan tensi darah hingga cek kolesterol adalah salah satu cara mendeteksi adanya potensi penyakit jantung. Namun, tidak sembarang cek kesehatan bisa mendeteksi adanya kadar kolesterol jahat dalam darah.
Tes advance kardiovaskular di laboratorium disebut mendukung temuan faktor risiko secara lebih detail dan akurat termasuk dalam proses rehabilitasi.
Sementara sebagai dukungan terhadap infrastruktur alat rehabilitasi kesehatan jantung dalam dunia kedokteran yang semakin modern, Pramita bersama Cardiology Prevention and Rehabilitation Working Group of Indonesian Heart Association menyelenggarakan workshop ilmiah bertajuk “Optimizing Cardiac Rehabilitation: Integrating CPET, Telemetry and EECP Therapy into Real-World Practice”.
Acara ini menjadi bagian dari komitmen dalam mendukung pengembangan layanan rehabilitasi jantung yang modern, komprehensif, dan berbasis evidence-based medicine.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh dokter umum, dokter spesialis jantung, perawat, serta tenaga kesehatan yang memiliki perhatian terhadap pengembangan rehabilitasi jantung dan peningkatan kapasitas fungsional pasien kardiovaskular.
Workshop menjadi sarana edukasi dan diskusi ilmiah mengenai pentingnya pendekatan rehabilitasi jantung yang terintegrasi dalam praktik klinis sehari-hari.
Pramita juga terus mengembangkan layanan kesehatan jantung dan rehabilitasi kardiovaskular melalui berbagai fasilitas pemeriksaan dan evaluasi seperti EKG, echocardiography, treadmill test, pemeriksaan laboratorium, evaluasi kebugaran, hingga terapi EECP.
"Layanan ini kami harapkan dapat mendukung deteksi dini, pemulihan, peningkatan kapasitas fungsional, serta monitoring kesehatan jantung secara berkelanjutan," ungkap Vice President Director PT. Pramita, dr. Nabil Fachliansyah.
Selain berfokus pada rehabilitasi pasien jantung, layanan ini juga dirancang untuk mendukung peningkatan kebugaran dan monitoring kesehatan bagi individu aktif, atlet, eksekutif perusahaan, hingga pasien pasca-tindakan kardiovaskular.
Dengan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis evaluasi medis, layanan rehabilitasi jantung diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh kualitas hidup yang lebih baik melalui pemantauan kesehatan yang optimal dan berkesinambungan.
Ia menyampaikan, bahwa kegiatan ini sekaligus merupakan bagian dari upaya Pramita dalam mendukung peningkatan kompetensi tenaga kesehatan sekaligus memperluas pemahaman mengenai rehabilitasi jantung modern.
“Melalui workshop ini, kami berharap tenaga kesehatan dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai optimalisasi rehabilitasi jantung melalui integrasi CPET, telemetry, dan EECP therapy sehingga dapat diterapkan secara nyata dalam praktik klinis,” ujar dr. Nabil Fachliansyah.
Melalui kegiatan ini, Pramita berharap dapat meningkatkan awareness mengenai pentingnya rehabilitasi jantung sebagai bagian dari penanganan penyakit jantung jangka panjang sekaligus memperkuat kolaborasi dengan tenaga medis dan institusi kesehatan dalam pengembangan layanan rehabilitasi jantung di Indonesia.
Dalam workshop ini, peserta mendapatkan pemaparan mengenai Cardiopulmonary Exercise Testing (CPET) sebagai gold standard penilaian functional capacity, pemanfaatan telemetry dalam meningkatkan keamanan dan efektivitas program rehabilitasi jantung, serta terapi Enhanced External Counterpulsation (EECP) sebagai terapi adjuvan pada refractory angina.
Workshop pun menghadirkan narasumber dari bidang rehabilitasi kardiovaskular dan pelayanan klinis, termasuk dr. Meity Ardiana, dr., Sp.JP., Subsp.P.R.Kv (K), M.H, yang memberikan edukasi mengenai implementasi rehabilitasi jantung terintegrasi berbasis praktik klinis nyata (real-world practice).(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

