Seratus Tahun NU Jaga Peradaban
TIMES Surabaya/Imam Kusnin Ahmad, SH., Wartawan Senior, Aktif di PW ISNU Jawa Timur.

Seratus Tahun NU Jaga Peradaban

NU selalu diuji, tetapi tak pernah tumbang. Sebab ia tidak berdiri hanya di atas struktur, tetapi di atas doa para kiai.

TIMES Surabaya,Jumat 6 Februari 2026, 14:47 WIB
9.1K
H
Hainor Rahman

SurabayaSejak akhir 2025 hingga memasuki 2026, Nahdlatul Ulama kembali menjadi sorotan. Dinamika internal yang sempat menghangat, perbedaan pandangan yang ramai dibicarakan, hingga isu-isu organisasi yang beredar di ruang publik, seakan menjadi babak baru dari ujian panjang yang tak pernah benar-benar berhenti.

NU seperti kapal besar yang sedang melintasi lautan bergelombang: kadang miring diterpa ombak, namun tetap bergerak, sebab di dalamnya ada kompas sejarah yang tidak mudah patah.

Bagi NU, ujian bukan sesuatu yang asing. Ia seperti napas kedua organisasi ini. Sejak lahir, NU memang tidak pernah dibesarkan dalam suasana nyaman. Ia dibesarkan oleh zaman yang keras, oleh perdebatan yang tajam, oleh kolonialisme yang menindas, oleh pergolakan politik yang memecah, dan oleh tantangan modernitas yang sering memaksa agama memilih antara menjadi relevan atau menjadi asing bagi rakyatnya. 

Maka ketika NU memasuki usia satu abad pada 31 Januari 2026, yang patut kita renungkan bukan sekadar angka, tetapi daya tahan sebuah gerakan yang berkali-kali diguncang namun selalu menemukan jalan pulang.

NU lahir pada 31 Januari 1926 di Surabaya, jauh sebelum Indonesia bernama Indonesia secara resmi. Saat itu, bangsa ini masih seperti bayi yang baru belajar merangkak, sementara dunia Islam tengah mengalami gelombang perubahan pemikiran yang besar. 

Arus modernisasi Islam dan semangat pemurnian yang datang dari berbagai arah membawa konsekuensi: tradisi lokal mulai dicurigai, budaya rakyat mulai dianggap bid’ah, dan identitas Islam Nusantara seolah dipaksa memilih antara “murni” atau “sesat”.

Di titik itulah NU lahir, bukan sebagai organisasi yang sekadar ingin menambah jumlah, melainkan sebagai benteng yang ingin menjaga akar. Para muassis, terutama KH Muhammad Hasyim Asy’ari, memahami bahwa Islam yang hidup di Indonesia tidak bisa tumbuh tanpa tanah tempat ia berpijak. 

NU hadir mempertahankan mazhab Syafi’i, teologi Asy’ariyah, dan tasawuf yang dirawat dalam jalur Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, dengan keyakinan sederhana namun dalam: agama harus menuntun manusia, bukan memutusnya dari budayanya.

Sebelum NU berdiri, embrio gerakannya telah lebih dulu hidup melalui Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathon, dan Nahdlatut Tujjar yang digagas KH Wahab Chasbullah. Dari sinilah terlihat bahwa NU lahir bukan dari ruang rapat berpendingin, tetapi dari peluh kaum sarungan yang ingin menjaga keyakinan sekaligus harga diri. Ia lahir dari kegelisahan intelektual dan tanggung jawab moral, bukan dari ambisi jabatan.

Ketika Belanda masih mencengkeram negeri ini, NU menjalani ujian pertama: bertahan hidup dalam tekanan penjajahan. NU tidak memilih jalan heroik yang berisik, tetapi jalan panjang yang sunyi. Pendidikan pesantren diperkuat, dakwah diperluas, dan rakyat kecil diberi ruang untuk memahami agama tanpa harus menjadi orang asing di kampungnya sendiri. 

Bahkan pada 1928, NU mengambil keputusan penting dengan membolehkan khotbah Jumat menggunakan bahasa Jawa. Keputusan ini mungkin tampak sederhana hari ini, tetapi pada masa itu adalah revolusi kesadaran: agama tidak boleh hanya dipahami oleh elite, agama harus menjadi milik rakyat.

NU kemudian bergabung dengan MIAI pada 1937, sebuah langkah yang menunjukkan kematangan strategi. Namun ujian kembali datang ketika Jepang masuk pada 1942. MIAI dibubarkan dan diganti menjadi Masyumi. Jepang ingin memanfaatkan organisasi Islam, tetapi NU justru memanfaatkan ruang itu untuk menjaga eksistensi umat. 

KH Hasyim Asy’ari didorong menjadi pemimpin nasional, sementara KH Wahid Hasyim memainkan peran penting dalam konsolidasi. Dalam penjajahan yang berganti wajah, NU belajar bahwa bertahan bukan berarti menyerah, tetapi memilih cara agar api perjuangan tidak padam sebelum waktunya.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, NU tidak berhenti pada euforia. Resolusi Jihad pada Oktober 1945 menjadi tonggak besar yang menegaskan posisi NU dalam sejarah republik. Santri yang biasanya memanggul kitab kuning kini memanggul senjata. 

Mereka tidak sekadar membela tanah air, tetapi membela harga diri bangsa yang baru lahir. Hizbullah dan Sabilillah menjadi saksi bahwa pesantren bukan hanya pusat ilmu, tetapi juga pusat keberanian.

Dalam masa itu pula, KH Wahid Hasyim menjadi bagian penting dalam merajut fondasi negara. Perdebatan tentang Piagam Jakarta, penyusunan Pancasila, hingga format kebangsaan, menjadi medan ujian baru: bagaimana Islam bisa berkontribusi pada negara tanpa memaksakan diri, bagaimana agama bisa menjadi ruh bangsa tanpa menjadi alat konflik. NU membuktikan bahwa Islam dan Indonesia bukan dua kutub yang harus bertengkar, tetapi dua napas yang saling menguatkan.

Memasuki era politik pasca-kemerdekaan, ujian NU menjadi semakin rumit. Tahun 1952 NU memutuskan keluar dari Masyumi dan membangun jalannya sendiri. Pada Pemilu 1955, NU meraih suara besar dan menjadi kekuatan politik utama. 

Ini membuktikan bahwa NU bukan sekadar organisasi pengajian, tetapi kekuatan sosial yang dipercaya rakyat. Namun semakin dekat dengan politik, semakin besar pula ujian yang datang. Di era Demokrasi Terpimpin, NU berada dalam pusaran NASAKOM, lalu di masa Orde Baru dipaksa melebur dalam PPP.

Di titik ini, NU diuji oleh dilema besar: apakah harus terus menjadi pemain politik, atau kembali menjadi penjaga moral masyarakat. Pertarungan gagasan internal berlangsung panjang hingga akhirnya Muktamar Situbondo 1984 melahirkan keputusan monumental: kembali ke Khittah 1926. 

NU memilih kembali ke akar dakwah dan sosial, sementara politik praktis diserahkan kepada individu warganya. Keputusan itu bukan langkah mundur, tetapi langkah untuk menjaga marwah, agar NU tidak larut menjadi partai yang habis dimakan kepentingan.

Dari rahim Khittah itu pula muncul figur besar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur adalah ujian sekaligus berkah bagi bangsa. Pemikirannya sering membuat kekuasaan gelisah, tetapi gagasannya membangun jembatan toleransi dan kemanusiaan. Ia membuktikan bahwa santri bisa menjadi pemimpin republik, dan pesantren bisa menjadi mercusuar peradaban.

Era reformasi 1998 kembali membuka ujian baru. NU tidak berpolitik sebagai organisasi, tetapi melahirkan PKB sebagai saluran aspirasi. Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI ke-4 pada 1999, mencatat sejarah bahwa orang pesantren pernah memimpin Indonesia. Setelah itu NU terus berkembang di bawah kepemimpinan para tokoh besar, dari KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siroj, hingga Gus Yahya Cholil Staquf.

Namun ujian tidak pernah berhenti. Perdebatan tentang Islam Nusantara, dinamika relasi Syuriyah dan Tanfidziyah, hingga ketegangan internal pada 2025 menunjukkan bahwa NU adalah organisasi yang hidup, bukan organisasi yang beku. NU bergerak karena ia manusiawi. Kadang berbeda, kadang berselisih, kadang panas, tetapi selalu punya rem darurat: para kiai sepuh yang menjadi peneduh ketika suhu organisasi mulai membakar.

Hari ini, NU diperkirakan memiliki sekitar 159 juta pengikut. Ia bukan hanya organisasi, tetapi ekosistem besar yang mengakar dalam kehidupan bangsa. Dari PBNU hingga ranting desa, dari Muslimat NU, GP Ansor, PMII, IPNU-IPPNU, ISNU, Jatman, hingga Pagar Nusa, NU adalah jaringan sosial yang menjangkau dapur rakyat. Di bidang pendidikan, NU mengelola ribuan pesantren, madrasah, sekolah, dan ratusan perguruan tinggi yang tumbuh dari gotong royong, bukan dari kemewahan.

Data survei bahkan menunjukkan peningkatan identifikasi masyarakat Islam Indonesia terhadap NU. Ini menandakan satu hal: meskipun NU terus diuji, akar sosialnya tetap kuat. Ia mungkin retak di permukaan, tetapi akarnya tertanam dalam-dalam pada tanah rakyat.

Perayaan satu abad NU bukan sekadar pesta seremonial. Ia adalah pengingat bahwa organisasi ini masih berdiri, masih menjadi jangkar moral, dan masih menjadi ruang pulang bagi umat. Harlah NU ke-100 dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia” adalah penegasan bahwa NU tidak hanya ingin menjadi besar, tetapi ingin tetap berarti.

Di tingkat nasional, peringatan berlangsung di Istora Senayan. Di Jawa Timur, PWNU akan menggelar Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana Kota Malang pada 7–8 Februari 2026, yang diperkirakan dihadiri puluhan ribu jamaah. 

Pemerintah Kota Malang bahkan menyiapkan rekayasa lalu lintas, titik parkir, hingga personel pengamanan. Ini bukan sekadar soal keramaian, tetapi bukti bahwa NU adalah magnet sosial yang masih mampu menggerakkan massa bukan dengan paksaan, melainkan dengan kepercayaan.

Namun, perayaan satu abad juga merupakan ujian baru. Sebab setelah seremonial selesai, tantangan NU tidak semakin ringan. Modernitas terus bergerak, dunia digital terus mengguncang, ekonomi global menekan, politik identitas terus mencari celah, dan generasi muda hidup dalam arus informasi yang sering tak punya filter moral. 

NU harus tetap menjadi rumah besar yang ramah bagi generasi baru, tanpa kehilangan akarnya. Ia harus menjadi pelindung tradisi, sekaligus pemandu perubahan.

NU memang bukan organisasi yang sempurna. Ia punya dinamika, punya perdebatan, punya konflik yang kadang keras. Tetapi justru di situlah kekuatannya. NU tidak hidup karena bebas ujian, tetapi karena mampu menjadikan ujian sebagai jalan pendewasaan. Seratus tahun NU bukan cerita tentang organisasi yang selalu mulus, melainkan tentang organisasi yang selalu bangkit.

NU selalu diuji, tetapi tak pernah tumbang. Sebab ia tidak berdiri hanya di atas struktur, tetapi di atas doa para kiai. Ia tidak berjalan hanya dengan strategi, tetapi dengan barakah perjuangan. Ia tidak tumbuh hanya karena organisasi, tetapi karena umat yang menjadikannya rumah.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh dan rapuh, NU memang dibutuhkan bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai akar. Sebab bangsa yang kehilangan akar, mudah tumbang ketika badai datang.

***

*) Oleh : Imam Kusnin Ahmad, SH., Wartawan Senior | Aktif di PW ISNU Jawa Timur.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainorrahman

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Surabaya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.