TIMES SURABAYA, SURABAYA – Tadi malam, Kamis 5 Februari 2026, futsal Indonesia seperti menyalakan kembang api di langit Asia. Bukan sekadar kemenangan biasa, melainkan sebuah penanda zaman: bahwa Garuda tak lagi berdiri di pinggir lapangan sebagai penonton, tetapi telah masuk ke arena sebagai pemain utama.
Timnas futsal Indonesia mengukir sejarah yang akan dikenang lama, bukan hanya oleh pencinta olahraga, tetapi oleh siapa pun yang percaya bahwa mimpi bangsa ini masih punya nyala.
Di bawah komando pelatih asal Spanyol, Hector Souto, timnas futsal Indonesia bukan hanya memecahkan rekor-rekor lama, tetapi mematahkan stigma yang selama ini menempel seperti debu: bahwa Indonesia hanya kuat di sorak-sorai, namun rapuh ketika bertemu raksasa Asia. Kini cerita itu berubah. Garuda tak lagi terbang rendah, ia menukik tajam, menabrak batas-batas yang dulu dianggap mustahil.
Dulu, kita hanya memelihara harapan seperti memelihara lilin kecil di tengah badai. Kita bermimpi bisa bersaing dengan Thailand, Jepang, Iran, Uzbekistan—nama-nama yang selama ini terasa seperti tembok tinggi. Tapi malam ini tembok itu mulai retak.
Bahkan, di SEA Games terbaru, Indonesia sukses menjatuhkan “Raja Futsal ASEAN” Thailand dengan skor telak 6-1. Itu bukan kemenangan biasa. Itu adalah pernyataan keras: bahwa futsal Indonesia telah naik kelas, bukan lagi murid, tetapi calon penguasa.
Prestasi gemilang ini tentu bukan jatuh dari langit. Ia lahir dari keringat panjang, latihan yang sunyi, kegigihan yang tak banyak dipamerkan, serta perubahan mentalitas yang akhirnya matang. Kita sedang menyaksikan babak baru: futsal Indonesia yang dulu dianggap pelengkap kini menjelma menjadi ancaman.
Keberhasilan Indonesia menjuarai Piala AFF Futsal menjadi tonggak penting yang tidak boleh dipandang remeh. Trofi itu bukan sekadar piala untuk dipajang di lemari kaca. Ia adalah simbol bahwa dominasi Thailand yang bertahun-tahun seperti matahari di ASEAN kini mulai tenggelam.
Indonesia hadir sebagai fajar baru. Perjalanan menuju gelar itu penuh tekanan, penuh ketegangan, penuh ujian. Namun timnas kita menunjukkan sesuatu yang dulu sering hilang: konsistensi dan keberanian.
Puncaknya, kemenangan telak 6-1 atas Thailand di final SEA Games adalah momen yang layak ditulis dengan tinta emas. Skor itu seperti petir yang menyambar angkuh dominasi. Itu bukan hanya soal teknik dan taktik, tetapi soal psikologi.
Thailand selama ini bukan hanya lawan di lapangan, melainkan lawan di kepala. Mereka seperti bayangan besar yang membuat Indonesia kerdil sebelum bertanding. Tapi malam itu, bayangan itu dihancurkan. Garuda membuktikan bahwa rasa takut bisa dikalahkan jika mentalitas juara sudah tumbuh.
Namun prestasi yang lebih membanggakan datang dari panggung yang lebih tinggi: AFC Futsal 2026. Indonesia bukan hanya lolos semifinal kita bahkan mampu melangkah ke final setelah melibas Jepang, tim kuat dari Negeri Matahari Terbit. Ini bukan sekadar kejutan. Ini adalah bukti bahwa futsal Indonesia sudah mulai pantas disebut sebagai kekuatan Asia.
Final AFC bukan panggung kecil. Ini arena tempat raksasa berkumpul. Dan Indonesia kini berdiri di sana, berhadapan dengan Iran tim yang dikenal sebagai salah satu kekuatan paling dominan di futsal Asia, bahkan dunia. Jika dulu Indonesia hanya menatap Iran seperti menatap gunung dari kejauhan, kini kita berdiri di lerengnya, siap mendaki, siap menantang.
Pencapaian ini berarti satu hal: Indonesia telah masuk dalam lingkaran elit futsal Asia. Kita tidak lagi sekadar “tim berkembang”, tetapi mulai menjadi pesaing serius. Garuda telah menancapkan kuku di benua ini.
Tentu, keberhasilan ini tidak muncul tanpa sebab. Salah satu faktor utama adalah peran besar Hector Souto. Ia datang bukan hanya membawa strategi Eropa, tetapi membawa cara berpikir baru. Ia mengubah pola latihan, membenahi disiplin, merapikan struktur permainan, dan yang paling penting: membangun mentalitas pemenang.
Souto mengajarkan bahwa kemenangan bukan soal keberuntungan, tetapi soal sistem. Bahwa futsal bukan hanya adu skill, melainkan adu kecerdasan. Ia menanamkan prinsip bahwa lapangan adalah papan catur, bukan arena emosi. Setiap langkah harus dihitung, setiap serangan harus punya tujuan, setiap pertahanan harus punya kesabaran.
Selain itu, kualitas pemain Indonesia juga menunjukkan peningkatan nyata. Liga futsal yang semakin berkembang mulai melahirkan generasi yang lebih siap tempur. Para pemain muda datang membawa energi baru, membawa nyali baru. Mereka tidak lagi bermain dengan rasa inferior, tetapi bermain dengan keyakinan bahwa Indonesia bisa menang melawan siapa pun.
Dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak juga mulai terasa. Futsal yang dulu sering dipandang sebagai “olahraga alternatif” kini mendapat perhatian yang lebih serius. Fasilitas mulai membaik, pembinaan mulai lebih terarah, dan dukungan finansial mulai membuka jalan agar tim nasional dapat mempersiapkan diri secara maksimal.
Namun di tengah euforia ini, kita harus jujur bahwa jalan panjang masih terbentang. Prestasi tinggi tidak boleh menjadi pesta semalam. Kita harus menjaga konsistensi agar kemenangan ini bukan hanya kisah indah yang cepat dilupakan.
Sejarah olahraga Indonesia sering mencatat momen-momen besar yang sayangnya tak berumur panjang karena tidak ditopang sistem berkelanjutan. Jangan sampai futsal mengulang luka yang sama.
Pengembangan basis pemain juga harus diperluas. Futsal tidak boleh hanya hidup di kota-kota besar. Ia harus tumbuh di daerah-daerah, di kampung-kampung, di sekolah-sekolah. Lapangan futsal harus menjadi ruang lahirnya mimpi baru, bukan sekadar bisnis sewa lapangan. Talenta Indonesia begitu luas, tetapi harus diberi jalan agar bisa muncul.
Liga domestik pun harus terus dibenahi. Profesionalisme pengelolaan, promosi, kesejahteraan pemain, hingga sistem kompetisi harus diperkuat. Liga yang sehat akan melahirkan tim nasional yang kuat. Tanpa liga yang profesional, timnas akan seperti pohon besar yang akarnya rapuh.
Kita harus sadar bahwa futsal Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah. Kita sudah melangkah jauh dari masa lalu yang penuh keterbatasan. Kita telah membuktikan bahwa Garuda bisa terbang tinggi. Tapi untuk terbang lebih jauh, kita butuh sayap yang lebih kuat: sistem pembinaan yang berkelanjutan, kompetisi yang berkualitas, serta manajemen yang modern dan disiplin.
Prestasi ini harus menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Bahwa mimpi tidak selalu harus berangkat dari fasilitas mewah. Kadang mimpi lahir dari lapangan kecil, dari sepatu yang lusuh, dari latihan yang melelahkan, dari tekad yang tak mau menyerah. Timnas futsal Indonesia telah memberi pesan kepada anak-anak bangsa: bahwa Indonesia tidak ditakdirkan hanya menjadi penonton.
Kini, futsal Indonesia telah menyalakan obor harapan. Jangan biarkan obor itu padam. Kita harus menjaganya, meniupnya agar apinya semakin besar, hingga kelak Garuda tidak hanya menjadi raja di Asia, tetapi juga menembus panggung dunia.
Untuk para pemain timnas futsal Indonesia: teruslah berlari, teruslah bertarung. Kalian telah membuktikan bahwa langit Asia bukan batas, melainkan gerbang. Bawa nama Indonesia dengan kepala tegak, dengan dada lapang, dan dengan hati yang tak mudah gentar. Karena di setiap langkah kalian, ada jutaan rakyat yang ikut bermimpi.
***
*) Oleh : Imam Kusnin Ahmad, SH., Wartawan Senior, Aktif di PW ISNU Jawa Timur.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |