Hardiknas 2026: Dindik Jatim Targetkan Hapus Kesenjangan Mutu Pendidikan Lewat Kolaborasi
Hardiknas 2026 di Jatim jadi momentum meruntuhkan eksklusivitas sekolah. Kadindik Aries Agung dorong kolaborasi pemerintah, DUDI, dan masyarakat demi pemerataan mutu pendidikan.
SURABAYA – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 menjadi momentum refleksi mendalam bagi dunia pendidikan di Jawa Timur. Bukan sekadar upacara seremonial, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Dindik Jatim) tahun ini membawa pesan kuat tentang pentingnya meruntuhkan sekat-sekat eksklusivitas demi pemerataan kualitas sekolah di seluruh wilayah.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa beban mencerdaskan kehidupan bangsa tidak bisa hanya dipanggul sendirian oleh pemerintah. Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dunia industri (DUDI), dan masyarakat luas menjadi kunci utama.
"Pendidikan itu tidak bisa diurus hanya oleh pemerintah. Harus ada tiga komponen utama yang bergerak bersama: pemerintah, dunia usaha/industri, serta masyarakat. Jika kekuatan ini menyatu, saya yakin pendidikan kita akan jauh lebih sukses dan maju," ujar Aries saat ditemui di Surabaya, Sabtu (2/5/2026).
Aries yang merupakan lulusan IPDN ini memaparkan realitas di lapangan. Saat ini, Jawa Timur mengelola ribuan satuan pendidikan, mulai dari 298 SMK Negeri dan 1.860 SMK Swasta, hingga ratusan SMA dan SLB yang tersebar dari perkotaan hingga pelosok desa. Dengan keterbatasan anggaran negara yang juga harus terbagi untuk sektor kesehatan dan infrastruktur, inovasi kolaborasi menjadi jalan keluar paling realistis.
Persoalan utama yang disorot adalah kesenjangan mutu. Ia menginginkan agar prestasi tidak hanya terkonsentrasi pada segelintir sekolah "unggulan" di kota besar.
"Keberhasilan pendidikan itu bukan soal satu atau dua siswa yang hebat atau juara nasional. Tugas berat kita adalah pemerataan potensi. Bagaimana kualitas pendidikan di daerah pelosok bisa setara dengan di kota. Ini tidak mudah, tapi bisa jika dikerjakan bersama," tegas Kadindik kelahiran Makassar tersebut.
Selain sarana prasarana, Dindik Jatim tengah serius menggarap kualitas sumber daya manusia, terutama kompetensi guru. Aries menyadari bahwa masih banyak tenaga pendidik yang kesulitan beradaptasi dengan kecepatan teknologi. Untuk itu, program pelatihan masif melalui bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) serta sertifikasi berbasis KKNI-LSK terus digenjot.
"Tantangan terbesar kita adalah kompetensi guru. Banyak yang belum mumpuni, terutama dalam adaptasi teknologi. Ini butuh biaya dan perhatian bersama agar mereka mendapatkan ilmu tambahan dan tetap relevan dalam mendidik anak-anak kita," tambahnya.
Harapannya, Jawa Timur tidak hanya menjadi barometer pendidikan nasional melalui deretan trofi, tetapi juga menjadi model di mana setiap anak, di mana pun mereka bersekolah, mendapatkan hak pendidikan dengan kualitas yang sama baiknya.
"Kita ingin potensi anak-anak Jatim merata. Prestasi sudah luar biasa, tinggal bagaimana pemerataan itu dirasakan nyata di seluruh daerah," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

