Guru Besar UC Soroti Identitas Wisata hingga Ancaman AI
(Dari kiri-kanan) Tiga Guru Besar UC yang baru dikukuhkan, Prof. Dr. Adi Suryaputra P., Prof. Dr. Astrid, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata. (FOTO: Siti Nur Faizah/TIMES Indonesia)

Guru Besar UC Soroti Identitas Wisata hingga Ancaman AI

Guru Besar Universitas Ciputra memberikan catatan kritis terkait lemahnya keunikan ruang wisata hingga fenomena cognitive offloading yang mengancam daya kritis masyarakat.

TIMES Surabaya,Kamis 30 April 2026, 14:40 WIB
315
S
Siti Nur Faizah

SURABAYATiga Guru Besar Universitas Ciputra (UC) Surabaya menyebut bahwa masa depan Indonesia dihadapkan pada dua tantangan besar, yakni penguatan identitas fisik di sektor pariwisata dan kesiapan mental dalam menghadapi disrupsi Artificial Intelligence (AI).

Mereka adalah Guru Besar Bidang Ilmu Desain dan Perilaku, Prof. Dr. Astrid, S.T., M.M., Guru Besar Bidang Ilmu Sains Data, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, S.T., M.Eng.Sc., Guru Besar Bidang Ilmu Business Intelligence, Prof. Dr. Adi Suryaputra P., S.Kom., M.Kom., yang dikukuhkan, Kamis (30/4/2026). 

Ketiganya memberikan catatan kritis terkait lemahnya keunikan ruang wisata hingga fenomena cognitive offloading yang mengancam daya kritis masyarakat.

Menemukan 'Soul of Space' di Tengah Ribuan Desa Wisata

Guru Besar UC, Prof. Dr. Astrid Kusumowidagdo, menyoroti paradoks pariwisata tanah air. Meski memiliki lebih dari 16.000 pasar tradisional dan 7.000 desa wisata, Indonesia dinilai masih lemah dalam aspek identitas.

"Banyak ruang komersial kita berkembang, tetapi belum memiliki identitas yang jelas. Akibatnya terlihat serupa dan sulit bersaing," ujar Prof. Astrid. 

Menurutnya, kekuatan pasar seperti Ubud atau Lok Baintan bukan pada bangunan fisiknya, melainkan pada interaksi budaya dan manusia. 

"Pengembangan wisata tidak boleh hanya soal renovasi fisik, melainkan harus memperkuat cerita dan identitas lokal agar tercipta keterikatan emosional bagi wisatawan," terangnya. 

Paradoks Digital: Adopsi AI Tinggi, Kesiapan Organisasi Rendah

Sementara dalam isu teknologi, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata mengungkap data mengejutkan mengenai perilaku digital masyarakat Indonesia. Ia mencatat adanya jurang lebar antara penggunaan individu dan kesiapan institusi.

"Sebanyak 92 persen individu di Indonesia sudah menggunakan AI, tetapi adopsi di tingkat organisasi baru sekitar 47 persen. Kita cepat mencoba, tetapi belum sepenuhnya siap mengelola," jelas Prof. Tri, sapaannya. 

Ia juga mengingatkan bahaya cognitive offloading, di mana manusia cenderung malas berpikir karena terlalu mengandalkan teknologi. Solusinya, ia memperkenalkan konsep “symbiotic workforce”, yaitu sebuah tatanan kerja di mana manusia tidak disingkirkan oleh teknologi, melainkan diperkuat oleh kemampuannya sehingga tugas dapat diselesaikan dengan lebih cepat, akurat, dan efisien. 

"AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak," tegasnya.

Prof. Tri juga merekomendasikan adanya langkah nyata dalam hal penguatan regulasi tata kelola AI nasional yang bersifat adaptif yang secara spesifik mengatur standar etika algoritma, transparansi sistem otonom, serta perlindungan privasi yang ketat. 

Selain itu, diperlukan ketetapan nasional untuk integrasi literasi AI kritis di seluruh jenjang, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi guna mencegah ketergantungan kognitif dan menyiapkan talenta yang mampu berkolaborasi secara simbiotik dengan mesin. 

"Sinergi strategis antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri adalah kunci utama untuk memastikan bahwa transformasi AI tetap berada dalam kendali manusia dan berorientasi pada kepentingan publik, demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang inklusif, aman, dan bermartabat," tuturnya. 

Human-Centered Decision Intelligence: Manusia Jangan Berhenti Berpikir

Senada, Prof. Dr. Adi Suryaputra memberikan peringatan keras bahwa ancaman teknologi yang paling nyata bukanlah kesalahan hitung mesin, melainkan saat manusia menyerahkan kontrol penuh pada sistem.

"Bahaya AI adalah saat manusia berhenti berpikir. AI dapat memprediksi, tetapi tidak memahami dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban," kata Prof. Adi.

Untuk menangani risiko bias data dan overconfidence terhadap teknologi, ia menawarkan pendekatan Human-Centered Decision Intelligence (HCDI). 

"Dalam konsep ini, teknologi diposisikan hanya sebagai alat bantu, sementara pengambilan keputusan tetap berbasis pada nilai, konteks, dan tanggung jawab manusia," ungkap Prof. Adi. 

Sementara itu, Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Wirawan E.D. Radianto, menyampaikan bahwa pengukuhan ini bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi langkah strategis dalam menjawab perubahan zaman.

“Pengukuhan tiga Guru Besar hari ini menjadi langkah penting dalam memperkuat peran universitas agar tetap relevan dengan tantangan zaman. Kami ingin memastikan teknologi, data, dan pemahaman manusia berjalan sebagai satu kesatuan untuk menghasilkan solusi nyata,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mendorong para profesor untuk tidak hanya menghasilkan riset unggul, tetapi juga mengimplementasikannya secara nyata.

“Saya berharap para Guru Besar tidak hanya melahirkan gagasan, tetapi juga mampu membentuk generasi pemimpin masa depan serta menjadi motor penggerak perubahan yang berdampak luas bagi masyarakat,” ucapnya. (*) 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Siti Nur Faizah
|
Editor:Wahyu Nurdiyanto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Surabaya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.