Ekspedisi Ngintir Jelajahi Tekanan Ekologis Kali Surabaya, Spesies Ikan Lokal Terancam Punah
Aksi aktivis lingkungan yang tergabung dalam ekspedisi Ngintir Kali Surabaya, Sabtu (30/5/2026).(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Ekspedisi Ngintir Jelajahi Tekanan Ekologis Kali Surabaya, Spesies Ikan Lokal Terancam Punah

Ekspedisi Ngintir Kali Surabaya ungkap sungai dalam tekanan: spesies ikan menyusut, 180 pohon terlilit plastik, puluhan timbunan sampah dan bangunan di sempadan sungai.

TIMES Surabaya,Sabtu 30 Mei 2026, 19:54 WIB
406
L
Lely Yuana

SURABAYAEkspedisi Ngintir Kali Surabaya menguak fakta mengejutkan. Kegiatan ini dilakukan oleh sejumlah komunitas lingkungan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni. Ada AKAMSI, River Warrior, Posko Ijo, Sungai Nusantara, dan TitikTerang.

Ekspedisi penyusuran badan sungai selama satu hari penuh berhasil mengungkap kondisi ekologis yang mengkhawatirkan di sepanjang aliran Kali Surabaya, mulai dari Pintu Air Mlirip, Mojokerto hingga Wringinanom, Gresik.

Pendiri Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, mengatakan, meskipun Kali Surabaya saat ini masih mengalir ke hilir, namun berada dalam tekanan ekologis yang terus meningkat.

Keberadaan ikan lokal masih terdeteksi, tetapi dalam lanskap yang semakin terfragmentasi oleh sampah plastik, penyempitan ruang sungai, dan penurunan kualitas habitat. Kekayaan hayati Sungai Brantas hanya tersisa 42 spesies dan Kali Surabaya 34 Spesies.

“Ikan asli menghadapi kerusakan ekologis semakin kompleks,” kata Rulli Mustika Adya, Sabtu (30/5/2026).

Hilangnya Spesies Historis

Rulli menyebut sejumlah spesies ikan yang pernah tercatat oleh naturalis abad ke-19 kini tidak lagi ditemukan.

Sebanyak 12 spesies ikan yang sebelumnya terdokumentasi, termasuk oleh Pieter Bleeker, dilaporkan hilang dari catatan terbaru.

Daftar tersebut mencakup antara lain Leptobarbus hoevenii, Crossocheilus cobitis, Crossocheilus oblongus, Barbichthys laevis, Cyclocheilichthys armatus, hingga Kalimantania lawak.

Tim peneliti juga mengidentifikasi sejumlah faktor utama tekanan ekologis. Mulai modifikasi habitat sungai, pencemaran berkelanjutan, perubahan iklim, penangkapan ikan berlebih, introduksi spesies asing, serta infrastruktur air tanpa jalur migrasi ikan. Kombinasi faktor tersebut memperkuat indikasi bahwa degradasi Kali Surabaya bersifat sistemik.

Sementara hasil penelitian dalam jurnal Biodiversitas Volume 27 Nomor 3 Maret 2026 mencatat 35 spesies ikan air tawar di Sungai Surabaya.

Penelitian dilakukan oleh Abdul R. Faqih bersama tim dari Indonesia, Malaysia, dan Inggris.
Pengambilan sampel dilakukan pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026 di tiga lokasi utama. Mulai Pintu Air Mlirip Mojokerto, 
Kecamatan Krian Sidoarjo, dan Pintu Air Jagir Surabaya.

Hasil penelitian menunjukkan penurunan jumlah spesies dari hulu ke hilir. Di Mlirip ada penurunan 34 spesies ikan. Sementara Jagir 17 spesies ikan.

Ia menjelaskan, saat ini hanya 34 spesies ikan bertahan di bantaran kali di Surabaya. Seperti Ikan Rengkik,  Lele Jawa, dan Wader Bintik-bintik.

"Mereka terancam oleh polusi, limbah industri dan sampah rumah tangga, hingga mikroplastik," tandasnya.

Ancaman polusi mikroplastik maupun limbah industri daur ulang dan sampah rumah tangga menjadi sumber utama pencemaran mikroplastik tersebut.

Temuan menunjukkan akumulasi sampah plastik, padatnya bangunan di sempadan sungai, serta indikasi penurunan jumlah spesies ikan dari hulu ke hilir.

Perbedaan Lanskap dari Darat dan Air

Dua orang pengintir mengikuti arus Kali Surabaya dari titik awal Pintu Air Mlirip, Mojokerto. Perjalanan berlangsung sekitar tiga jam dan berakhir di kawasan Wringinanom, Gresik.

Secara virtual mengikuti alur sungai, jarak dari Mlirip ke Wringinanom tercatat sekitar 42 kilometer, sementara melalui jalur darat hanya sekitar 13 kilometer. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kondisi sungai tidak sepenuhnya terbaca dari ruang darat.

Selama perjalanan, plastik sekali pakai ditemukan melimpah, banyak di antaranya tersangkut dan melilit vegetasi bantaran. Di sejumlah titik, sampah rumah tangga juga terakumulasi di tepian sungai.

Dalam kurun hampir tiga jam penyusuran, tim mencatat sejumlah temuan penting. Ada 180 pohon teridentifikasi terlilit sampah plastik, 80 titik timbunan sampah liar ditemukan di bantaran, dan120 bangunan berdiri di kawasan sempadan sungai.

Selain itu, bantaran sungai menunjukkan tekanan aktivitas manusia yang tinggi, termasuk alih fungsi ruang sempadan menjadi permukiman dan gudang. Di beberapa lokasi, ditemukan praktik pembuangan tinja langsung ke lingkungan (BABS).

Sungai dalam Kondisi Tertekan

Jurnalis media online yang turut dalam ekspedisi, Supriyadi, menyatakan pengalaman langsung di badan sungai mengubah perspektif terhadap kondisi Kali Surabaya.

“Waktu awal jebur di Mlirip ada rasa ragu. Pas sudah ngintir, saya menyatu dengan sungai. Dan bisa melihat persoalan Kali Surabaya satu-satu. Apa yang terjadi pada sungai ini,” ujarnya.

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, turut menegaskan bahwa kondisi sungai lebih jelas terlihat ketika diamati langsung dari badan air.

Ia menilai keberadaan plastik yang menggantung di vegetasi bantaran merupakan indikator kuat tekanan ekologis dari hulu hingga hilir.

“Kalau plastik sudah menggantung di pohon-pohon bantaran, artinya sungai sedang membawa luka dari hulu sampai hilir. Sungai tidak bisa terus dijadikan tempat buang sampah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa akumulasi sampah menunjukkan lemahnya sistem pengelolaan limbah dan pengawasan pencemaran di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS).

article
Penyusuran badan sungai oleh aktivis yang tergabung dalam ekspedisi Ngintir Kali Surabaya, Sabtu (30/5/2026).(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Mikroplastik dan Penyempitan Ruang Sungai

Selain sampah makro, mikroplastik menjadi perhatian utama dalam ekspedisi ini. Partikel plastik kecil diduga berasal dari limbah industri daur ulang, sampah rumah tangga, serta degradasi plastik di sepanjang aliran sungai.

Di sisi lain, bantaran Kali Surabaya mengalami perubahan signifikan. Banyak kawasan alami bergeser menjadi permukiman, gudang, dan kawasan industri, sehingga ruang ekologis sungai semakin menyempit.

Dari hasil catatan penelitian susur kali ini, aktivis Ekspedisi Ngintir nanti akan menggelar aksi teatrikal di depan Gedung Negara Grahadi pada puncak Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2026.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Lely Yuana
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Surabaya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.