Dishub Jatim Segera Tutup 100 Perlintasan Kereta Api di Bawah 2 Meter
Pempriv Jatim akan menutup secara permanen ratusan titik perlintasan sebidang yang dinilai berisiko tinggi.
Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) terus bergerak cepat dalam meminimalisir angka kecelakaan di perlintasan kereta api. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah menutup secara permanen ratusan titik perlintasan sebidang yang dinilai berisiko tinggi.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Dr. Ir. Nyono, mengungkapkan bahwa dari pemetaan awal terdapat 555 perlintasan sebidang tanpa palang pintu di seluruh wilayah Jawa Timur. Setelah melalui proses evaluasi dan penutupan bertahap, kini tersisa 213 titik yang menjadi prioritas penanganan.
Dari sisa tersebut, Nyono menegaskan bahwa sekitar 100 titik akan ditutup permanen dalam waktu dekat.
"Kami tertibkan dan tutup perlintasan yang lebar jalannya di bawah 2 meter. Keputusan ini diambil karena lokasi tersebut tidak efektif dan sangat berisiko, terutama bagi pengendara sepeda motor yang sering menyerobot," ujar Nyono, Senin (11/5/2026).
Sebagai solusi, lanjutnya, arus lalu lintas di titik-titik yang ditutup tersebut akan dialihkan ke perlintasan terdekat yang sudah dilengkapi palang pintu dan penjagaan 24 jam.
"Ini adalah langkah penyederhanaan demi menjamin keamanan masyarakat," imbuhnya.
Dengan rencana penutupan 100 titik tersebut, kini tersisa 113 perlintasan yang mendesak untuk dibangunkan pos jaga dan palang pintu otomatis. Dishub Jatim telah membagi target pengerjaannya ke dalam dua tahap.
"Tahun anggaran ini kami targetkan 50 titik selesai. Sisanya, sebanyak 63 titik, akan kami rampungkan pada tahun depan," urai Nyono.
Program ini, katanya, merupakan buah kolaborasi apik antara Pemprov Jatim, pemerintah pusat melalui Balai Perkeretaapian, serta pemerintah kabupaten/kota (Pemkab/Pemkot) setempat.
Meski secara administratif banyak perlintasan berada di wilayah kabupaten/kota, Pemprov Jatim memilih untuk mengambil inisiatif "jemput bola" dalam hal pembangunan fisik.
"Pemprov yang membangunkan pos dan palang pintunya, kemudian kami hibahkan ke daerah. Untuk gaji penjaganya nanti ditanggung kabupaten. Jika tidak dibantu seperti ini, daerah sering terkendala anggaran, padahal nyawa warga terus mengintai di perlintasan," tegasnya.
Berkat langkah proaktif ini, Nyono mengklaim tren angka kecelakaan kereta api di Jawa Timur terus menunjukkan penurunan yang signifikan.
Selain faktor infrastruktur, perilaku pengendara juga menjadi sorotan tajam. Nyono mengingatkan pentingnya kesadaran untuk berhenti total saat tanda kereta akan melintas. Ia memberikan penjelasan teknis terkait fenomena kendaraan mati mendadak di atas rel.
"Kalau ada kereta, lebih baik diam dan berhenti. Tunggu sampai lewat. Perlu diingat, ada medan magnet dari rel yang bisa mengganggu fungsi dinamo atau kelistrikan kendaraan. Itulah yang sering memicu mobil macet tiba-tiba di tengah rel," pungkas Kadishub Jatim. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

