Fatayat NU Jatim: Qonaah Jadi Kunci Mengatasi FOMO di Era Media Sosial
TIMES Surabaya/PW Fatayat NU Jawa Timur menilai sikap qonaah menjadi kunci mengatasi fenomena FOMO di era media sosial.

Fatayat NU Jatim: Qonaah Jadi Kunci Mengatasi FOMO di Era Media Sosial

PW Fatayat NU Jawa Timur menilai sikap qonaah menjadi kunci mengatasi fenomena FOMO di era media sosial.

TIMES Surabaya,Selasa 10 Maret 2026, 13:42 WIB
95
I
Imadudin Muhammad

SURABAYAWakil Ketua II PW Fatayat NU Jawa Timur, Dr Nabiela Naily S.SI., M.HI., MA, menegaskan bahwa solusi untuk mengatasi fenomena FOMO (Fear of Missing Out) adalah dengan menumbuhkan sikap qonaah, yakni menerima keadaan, merasa cukup, serta bersyukur atas apa yang dimiliki.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Ngaji Kentong Ramadan 1447 H yang digelar PWNU Jawa Timur bersama PW Fatayat NU Jatim di Surabaya, Senin (9/3/2026) petang.

Menurut Nabiela, FOMO bukanlah fenomena baru karena sebenarnya sudah ada sejak lama dan dialami lintas generasi. Bedanya, saat ini rasa takut tertinggal lebih sering muncul melalui pengaruh gawai dan media sosial.

“FOMO itu sebenarnya tren lintas generasi. Kalau sekarang karena gawai, dulu juga ada dari rasa iri melihat orang lain secara nyata. Orang Jawa menyebutnya sawang sinawang,” ujarnya.

Dalam kegiatan yang mengangkat tema “Lepas FOMO, Raih Ketenangan di Bulan Ramadan” itu, Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur, Siti Maulidah, menyebut tema tersebut memang jarang diangkat dalam forum pengajian.

Ia menilai masyarakat kerap merasa harus mengikuti tren agar dianggap relevan atau tidak tertinggal. Padahal, menurutnya, tidak semua tren membawa dampak positif.

“Tren itu sebenarnya biasa saja. Tapi masyarakat sering merasa kalau tidak ikut tren maka dianggap tidak luar biasa. Padahal agama mengingatkan bahwa mengikuti apa yang dilakukan kebanyakan orang belum tentu benar,” katanya.

Karena itu, kader Fatayat NU diingatkan agar lebih fokus pada nilai daripada sekadar mengikuti hal-hal yang viral di media sosial. Ia menegaskan bahwa kebutuhan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut atau popularitas di dunia digital.

Dalam penggunaan media sosial, sikap bijak menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi kader Fatayat NU yang aktif dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat.

“Fatayat ingin melahirkan perempuan yang berdampak melalui program Desa Sahabati. Karena itu, memberikan kemanfaatan jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Fatayat NU mendorong kadernya untuk fokus pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang menekankan kebermanfaatan dalam berbagai bidang, seperti sosial dan kepedulian masyarakat, ekonomi dan pemberdayaan, serta kaderisasi dan pendidikan hingga tingkat desa.

Sementara itu, Nabiela kembali menekankan bahwa nilai qonaah menjadi solusi penting dalam menghadapi fenomena FOMO yang semakin kuat di era digital.

Ia menilai isu FOMO sering diposisikan seolah tidak berkaitan dengan agama, padahal nilai-nilai keagamaan justru mengajarkan ketenangan batin dan sikap menerima.

“Isu FOMO sering didikotomikan seolah tidak ada kaitannya dengan agama. Padahal agama mengajarkan nilai ketenangan seperti qonaah, dan Ramadan menjadi momentum muhasabah,” ujarnya.

Menurutnya, ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain, hal tersebut justru dapat menghilangkan rasa syukur dan kebahagiaan.

“Kalau FOMO dengan kebaikan, itu berarti takut ketinggalan dalam hal baik. Tapi kalau FOMO karena membandingkan diri dengan orang lain, itu bisa rugi dua kali: rugi dunia dan akhirat. Tidak bahagia, stres, dan kurang bersyukur,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam budaya Jawa terdapat istilah sawang sinawang yang menggambarkan kecenderungan manusia melihat kehidupan orang lain tampak lebih baik dari dirinya sendiri.

Karena itu, Ramadan menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi diri melalui kontemplasi, meditasi spiritual, dan muhasabah agar manusia kembali pada nilai qonaah.

“Ramadan bukan sekadar tujuan, tetapi momentum untuk melakukan review kehidupan selama sebelas bulan ke depan dengan menata niat kembali pada nilai, bukan ego,” katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya nilai-nilai Aswaja seperti tasamuh (toleransi), tawassuth (moderat), dan tawazun (seimbang) sebagai kunci menjalani kehidupan yang lebih tenang dan harmonis.

“Nilai-nilai itu membuat kita saling membantu dan menjaga keseimbangan hidup, sehingga hati menjadi lebih tenang,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Imadudin Muhammad
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Surabaya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.