Bahaya Hantavirus di Jawa Timur, dr Benjamin Kristianto: Fatalitas Paru Capai 80 Persen
Anggota Komisi E DPRD Jatim dr Benjamin Kristianto ingatkan bahaya Hantavirus yang memiliki tingkat kematian hingga 80 persen. Simak gejala dan langkah pencegahannya.
Surabaya – Ancaman Hantavirus di Jawa Timur kini memasuki babak baru yang menuntut kewaspadaan ekstra. Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, dr. Benjamin Kristianto, mengungkapkan bahwa kemunculan kasus baru-baru ini hanyalah permukaan dari fenomena "gunung es" yang jauh lebih besar.
Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan alat deteksi dini yang membuat banyak kasus kemungkinan besar belum teridentifikasi secara akurat di lapangan. Dalam keterangannya di Gedung DPRD Jatim, Rabu (13/5/2026), dr. Benjamin membedah dua profil klinis virus yang dibawa melalui media tikus ini.
Profil pertama menyerang paru-paru (pulmonik) dengan karakteristik mirip Covid-19, namun memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, yakni mencapai 60 hingga 80 persen. Sementara profil kedua memicu demam berdarah yang disertai kerusakan ginjal atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan tingkat kematian sekitar 15 persen.
"Kalau ginjalnya sudah terlanjur rusak, pengobatannya tidak sebatas virusnya saja, tetapi harus masuk ke tindakan hemodialisis atau cuci darah," tegas dr. Benjamin.
Menariknya, pola penularan kini juga menyasar fasilitas mewah seperti kapal pesiar. Hal ini membuktikan bahwa Hantavirus bukan lagi sekadar penyakit lingkungan kumuh. Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi pelaku bisnis kuliner, mulai dari kafe, restoran, hingga hotel, agar tidak membiarkan sisa makanan mengundang tikus sebagai vektor utama melalui kontak ludah dan urine.
Selain sektor swasta, dr. Benjamin memberikan catatan kritis terhadap pengelolaan kebersihan pada program pemerintah, seperti makan siang gratis bagi anak sekolah. Ia menekankan agar sisa makanan dikelola secara higienis dan dibuang dalam wadah tertutup rapat supaya area sekolah tidak menjadi sarang tikus.
Mengingat sulitnya melakukan screening massal layaknya penyakit TBC, dr. Benjamin mendorong penguatan langkah preventif dan promotif. Masyarakat diimbau disiplin mengikat rapat sampah sisa makanan dan membuangnya ke luar rumah guna memutus akses tikus ke area hunian. Sebab, efektivitas penyembuhan sangat bergantung pada kecepatan deteksi dan kekuatan daya tahan tubuh pasien. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

