TIMES SURABAYA, SURABAYA – Pendidikan baca tulis Al-Qur'an memiliki peran sangat penting dalam memberantas buta huruf Al-Qur'an di berbagai kalangan.
Yayasan Nurul Falah sebagai lembaga dakwah yang berbasis pendidikan Al-Qur'an, memiliki program utama bernama Tilawati. Mulai dari bagaimana cara membaca, cara mengajar, cara memahami, menerjemahkan, hingga cara menghafalkan Al-Qur'an.
"Semua ada di Nurul Falah. Dengan fokus ke Al-Qur'an ini, Tilawati berkembang di berbagai provinsi di Indonesia," ungkap Ketua Yayasan Nurul Falah, Dr. KH. Umar Jaeni, M.Pd, saat membuka Rakernas Tilawati 2026 di Hotel Namira Surabaya, Jumat (23/1/2026) malam.
Hingga Januari 2026, data terbaru Kementerian Agama (Kemenag) dan lembaga terkait menunjukkan angka buta huruf Al-Qur'an di Indonesia masih tergolong tinggi.
Sekitar 72,25% umat Islam di Indonesia belum bisa membaca Al-Qur'an. Angka ini merujuk pada penelitian Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta yang melibatkan responden di 25 provinsi.
Kajian spesifik dari internal Kementerian Agama sendiri mencatat angka buta huruf Al-Qur'an berada di kisaran 38,49%, yang mencakup mereka dengan tingkat kemampuan membaca pada level "cukup" dan "kurang".
Meskipun angka buta aksara tinggi, survei Kemenag pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa indeks literasi Al-Qur'an secara umum masuk dalam kategori tinggi (skor 66,03), yang mengukur aspek membaca, menulis, dan memahami makna.
"Maka, ini tantangan bagi kami untuk para pengajar dan penggerak Al-Qur'an. Kita terus berpikir menggali metode-metode yang lebih sistematis sehingga bisa menjawab problem tersebut," jelas KH Umar.
"Mudah-mudahan menurun angkanya," harap KH Umar.
Ia menambahkan, Tilawati berkomitmen memperluas metode pembelajaran agar semakin mudah dipelajari. Termasuk rencana berantas buta huruf Al-Qur'an di kalangan eksekutif.
Belajar Al-Qur'an memang tidak hanya untuk usia anak-anak. Seperti mars Tilawati, belajar Al-Qur'an tidak mengenal usia, tidak ada kata terlambat.
Pembukaan Rakernas Tilawati 2026 di Surabaya, Jumat (23/1/2026) malam.(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)
"Kami sediakan semua metode. Mulai metode untuk anak pendidikan usia dini, anak-anak tingkat sekolah dasar, hingga remaja, sudah kami siapkan di seluruh cabang Tilawati di Indonesia. Tadi, rupanya ada tantangan baru. Kami diajak bagaimana mengajar baca Al-Qur'an untuk orang-orang eksekutif. Nanti akan kita coba," ucap KH Umar.
Sementara dalam Rakernas Tilawati 2026, forum membahas upaya peningkatan kualitas guru dan metode pembelajaran.
Rakernas diikuti oleh seluruh guru Tilawati seluruh Indonesia dan berlangsung selama tiga hari, mulai 23-25 Januari 2026.
Tema tahun ini adalah "Penguatan Manajemen Organisasi Dakwah yang Profesional di Era Disruption". Acara tersebut turut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim).
"Rapat Kerja Nasional guru-guru Tilawati ini merupakan agenda tahunan di mana setiap tahun kami berkumpul untuk merumuskan strategi pembelajaran Al-Qur'an di Indonesia," ungkap KH Umar.
Di tengah tantangan global dan teknologi, maka dinilai memerlukan pemikiran lebih tajam agar generasi muda masih terus mencintai dan memedomani kitab sucinya.
"Maka, kita perlu berkolaborasi dan alhamdulillah hadir di acara Rakernas ini dari beberapa stakeholder yang akan memberikan masukan," ujarnya.
Kolaborasi rekomendasi dilakukan bersama Kementerian Agama dan ahli manajemen sehingga berbuah rumusan metode pembelajaran Al-Qur'an yang konkrit serta berdampak luas.
Tak dapat dipungkiri, penguatan keimanan dalam belajar Al-Qur'an menjadi pilar penting di tengah kondisi global.
Maka, Tilawati tak sekadar mengajar baca Al-Qur'an melalui metodologi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter keimanan dan keislaman yang kokoh. Lembaga ini juga telah memiliki aplikasi khusus belajar Al-Qur'an supaya anak-anak bisa mengakses kapan saja melalui ponsel mereka.
"Sehingga, diharapkan anak-anak generasi kita mampu menghadapi berbagai problem," sambungnya.
Pada kesempatan yang sama, Koordinator Tim Bina Mental Spiritual Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jatim Kaboel Widodo mewakili Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi penyelenggaraan Rakernas Tilawati 2026.
"Tilawati bukan sekadar mengajar membaca huruf, melainkan menjaga ruh dan karakter bangsa. Di tengah gempuran digitalisasi dan globalisasi, Al-Qur'an adalah satu-satunya kompas bagi generasi kita agar tidak kehilangan arah," ungkapnya.
Jawa Timur dikatakan merupakan rumah besar bagi santri. Total lebih dari 7.300 pesantren dan sekitar 25 persen dari total santri nasional berada di provinsi ini.
"Kami memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi pusat keunggulan pendidikan Al-Qur'an," sambungnya.
Tantangan literasi Al-Qur'an diakui masih nyata. Banyak di kalangan masyarakat umum, pelajar, bahkan sebagian tenaga pendidik masih buta huruf Al-Qur'an.
"Hal ini menjadi peringatan bagi kita untuk mengenali pembelajaran yang sistematis, menyenangkan, dan terstandar seperti Tilawati," ujarnya.
Pemprov Jatim menitipkan tiga harapan besar kepada para pengajar Tilawati. Antara lain penguatan standarisasi, memastikan setiap pembelajaran memiliki mutu yang sama agar tidak ada kesenjangan kualitas antara guru di kota dan di desa. Termasuk juga mengadaptasi teknologi dan inovasi digital guna menjangkau generasi muda yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai.
"Terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam program penguatan, kita ingin melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, namun tetap kokoh dalam iman dan akhlakul karimah," harapnya.(*)
| Pewarta | : Lely Yuana |
| Editor | : Imadudin Muhammad |