https://surabaya.times.co.id/
Berita

Pemprov Jatim Bakal Lanjutkan Proyek Kereta Rel Listrik

Jumat, 09 Januari 2026 - 19:59
Pemprov Jatim Bakal Lanjutkan Proyek Kereta Rel Listrik, Pusat Siapkan Dana Pinjaman Jerman 5,4 Triliun Kepala Dinas Perhubungan Jatim Nyono di Gedung Negara Grahadi, Jumat (9/1/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMES SURABAYA, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) akan mengebut proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) pada 2027 mendatang.

Proyek ambisius model Kereta Rel Listrik (KRL) yang didanai Jerman ini mengubah jalur eksisting menjadi jalur ganda berlistrik menghubungkan Surabaya dengan Gresik dan Sidoarjo atau kawasan Gerbangkertosusila.

SRRL juga bertujuan meningkatkan mobilitas massal dan diharapkan siap beroperasi pada 2029. SRRL sendiri digadang sebagai tulang punggung transportasi modern di Jatim.

Hal tersebut terungkap usai kunjungan Duta Besar Jerman dan Country KFW Jerman beserta Delegasi Uni Eropa di Gedung Negara Grahadi, Jumat (9/1/2026).

Pihak Jerman ditemui langsung oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, serta perwakilan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Surabaya.

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur (Kadishub Jatim) Nyono usai pertemuan mengungkapkan, pada akhir Januari 2026 ini akan dilakukan penandatanganan kontrak Detail Engineering Design (DED) serta finalisasi kriteria teknis oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan terkait proyek SRRL.

Penandatanganan tersebut nantinya dilakukan oleh satuan kerja di lingkungan DJKA Kementerian Perhubungan di Jakarta.

Proyek ini merupakan proyek pemerintah pusat dan menjadi proyek percontohan di enam kota besar terkait pengembangan transportasi publik berbasis energi hijau, termasuk Surabaya Raya.

"Untuk Surabaya Raya, progresnya relatif lebih cepat dan agresif agar bisa segera direalisasikan," tandasnya seraya berharap proyek berjalan sesuai jadwal usai kontrak fisik.

"Pada 2027 hingga 2028 kita sudah mulai melihat pembangunan fisik kereta listrik berbasis energi ramah lingkungan, yang tidak lagi menggunakan bahan bakar solar, melainkan listrik," jelas Nyono.

Nyono mengatakan, jika seluruh pembiayaan proyek ini berasal dari pinjaman yang dijamin oleh Kementerian Keuangan RI, sehingga APBD Jawa Timur belum digunakan.

"Tahap pertama proyek ini membutuhkan anggaran sekitar Rp5,4 triliun. Pembiayaan berasal dari pinjaman luar negeri yang telah disepakati bersama Kementerian Keuangan RI dan lembaga pembiayaan Jerman (KFW) dengan bunga rendah," paparnya.

Ia juga memastikan seluruh pembangunan tahap ini tidak bersifat elevated karena masih tersedia lahan milik PT KAI yang dapat dimanfaatkan untuk pelebaran.

"Untuk pengembangan LRT, memang ada rencana pembangunan elevated. Dokumen perencanaannya telah disusun oleh konsultan McDonald dan sudah diserahterimakan kepada Ibu Gubernur Jawa Timur sekitar dua bulan lalu," ujarnya.

Sementara kontribusi APBD Jawa Timur nantinya lebih diarahkan pada penanganan perlintasan sebidang, termasuk penyesuaian jalur akibat pembangunan double track. Untuk penyiapan jalur, saat ini masih dalam proses. 

"Artinya, desain perencanaan lengkap untuk proyek ini—khususnya koridor 1A dan 1B—akan segera difinalisasi," kata Kadishub Jatim Nyono.

Terkait Koridor 1B, saat ini masih dilakukan pembahasan bersama PT KAI, DJKA, dan pihak terkait lainnya.

"Tidak ada pembebasan lahan dalam arti pembelian, melainkan ganti untung terhadap lahan milik PT KAI yang saat ini ditempati oleh warga," ucapnya.

Untuk operasional kereta selama pembangunan, kata Nyono, hal tersebut menjadi kewenangan PT KAI.

"Saya yakin nantinya akan ada penyesuaian manajemen operasional, termasuk penyesuaian di stasiun-stasiun wilayah Jawa Timur," ujarnya.

Lebih lanjut, Nyono menjelaskan untuk segmen pertama (Koridor 1A), rutenya adalah Stasiun Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo. Sedangkan segmen kedua (Koridor 1B) direncanakan dari Gubeng ke Pasar Turi.

Namun, yang akan direalisasikan terlebih dahulu adalah Koridor 1A, karena di Koridor 1B masih terdapat persoalan pembebasan lahan dan relokasi warga di sisi kanan dan kiri jalur rel.

"Proyek ini menggunakan jalur ganda (double track) dengan konsep pelebaran ke samping (at grade), bukan jalur layang. Jadi, satu jalur eksisting akan ditambah satu jalur baru di sampingnya, khusus untuk kereta listrik perkotaan (SRL)," paparnya.

Dari sisi kebutuhan penumpang, pihaknya mengutamakan pergerakan harian (commuter). Karena berdasarkan kajian Sustainable Urban Mobility Plan (SUMP), jumlah perjalanan harian mencapai hampir 300 ribu orang per hari, terutama dari wilayah Sidoarjo.

Selain itu, koridor Pasar Turi–Lamongan–Babat, termasuk Gresik, juga memiliki potensi besar dengan sekitar 250 ribu perjalanan per hari. Ke depan, direncanakan ada tiga koridor utama, yaitu:

1. Koridor 1A–1B: Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo dan Gubeng–Pasar Turi.

2. Koridor 2: Pasar Turi–Gresik–Lamongan–Babat.

3. Koridor 3: Wonokromo–Sidoarjo–Mojokerto. (*)

 

Pewarta : Lely Yuana
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Surabaya just now

Welcome to TIMES Surabaya

TIMES Surabaya is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.