TIMES SURABAYA, SURABAYA – Aksi massa yang semula diinisiasi oleh komunitas pengemudi ojek daring (ojol) di Surabaya berujung ricuh, memicu intervensi aparat untuk mengamankan situasi. Kericuhan ini terjadi di beberapa titik, termasuk di depan Gedung Grahadi dan di Jalan Taman Apsari, memecah massa di tengah tuntutan agar kasus meninggalnya ojol di Jakarta diusut tuntas.
Menurut Didik, salah satu anggota TNI yang dikerahkan untuk membantu pengamanan, situasi di lapangan sudah tidak kondusif, sehingga TNI harus diturunkan.
"Tujuan kami kan backup setelah mereka terjadi kerusuhan tadi," ujarnya.
Didik menjelaskan, massa yang terlibat tidak hanya dari kalangan ojol, tetapi juga berbagai elemen lain seperti siswa STM dan mahasiswa LBH, yang membuat dinamika aksi menjadi sangat kompleks.
Lebih lanjut, Didik membeberkan dua poin utama tuntutan massa. Pertama, mereka mendesak agar kasus meninggalnya seorang ojol di Jakarta akibat tergilas mobil Brimob diusut tuntas. Kedua, massa menuntut agar rekan-rekan mereka yang ditangkap segera dibebaskan. Kericuhan ini, lanjutnya, menyebabkan massa terpecah, sebagian didorong ke arah timur dan sebagian ke selatan, namun ia menegaskan bahwa poin tuntutan yang disampaikan tetap sama.
Sementara itu, Huda, seorang aktivis yang menjadi saksi mata di lokasi kejadian, menuturkan bahwa kericuhan ini dimulai bahkan sebelum orasi dari koordinator lapangan (korlap) ojol sempat disampaikan.
"Belum ada penyampaian orasi dari koordinator lapangan (korlap) ojol sendiri, tapi tepat pukul anak STM datang sampai terjadi bentrok," ungkap Huda.
Huda menjelaskan bahwa sekitar pukul 15.00 WIB, massa siswa STM sudah mulai berkumpul dan langsung mencoba merangsek ke depan Gedung Grahadi. Situasi memanas ketika komunitas ojol tiba sekitar pukul 16.00 WIB, dan kericuhan pun tak terhindarkan. Akibat bentrokan tersebut, komando korlap ojol dilaporkan pecah, dan tidak ada penyampaian aspirasi resmi dari mereka karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan.
Huda juga mencatat adanya aksi lain di lokasi yang berbeda. Menurutnya, ada aksi solidaritas berupa penyalaan lilin untuk almarhum ojol di Markas Polda Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa isu ini telah menjadi perhatian luas di kalangan ojol, yang memicu aksi-aksi terkoordinasi di beberapa titik sekaligus. Kejadian di Gedung Grahadi pun berakhir tanpa orasi formal, dengan sebagian massa ditarik mundur hingga area Bambu Runcing. (*)
Pewarta | : Biro Surabaya Raya |
Editor | : Ferry Agusta Satrio |