TIMES SURABAYA, SURABAYA – Tingkat kegemaran membaca masyarakat sangat memengaruhi pola pikir sumber daya manusia sebagai motor pendorong pembangunan. Karena buku adalah jendela ilmu, penguat daya ingat, dan penguat nalar kritis.
Maka dari itulah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus melakukan penguatan literasi sebagai bagian kehidupan sehari-hari guna mewujudkan Jatim yang cerdas dan produktif.
Penguatan literasi juga menjadi perhatian Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Dinas Pendidikan Jatim) melalui berbagai program.
Antara lain seperti literasi digital reflektif untuk mencegah paparan ideologi kekerasan dan konten negatif lain bagi siswa, pameran dan bedah ribuan buku karya insan pendidikan, serta dukungan terhadap acara literasi Big Bad Wolf (BBW).
Dinas Pendidikan Jatim juga bersinergi bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip Jatim) dan Balai Bahasa Jatim melalui penyelenggaraan berbagai pekan literasi guna memperluas akses buku berkualitas.
Semua upaya tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2024, Provinsi Jawa Timur masih berada di peringkat ketiga nasional dalam hal tingkat kegemaran membaca (TKM). Skornya sebesar 77,15 dengan jumlah buku yang dibaca pertriwulan 5-6.
Sedangkan posisi pertama dan kedua ditempati DI Yogyakarta dengan skor 79,99 dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan skor 77,47. Namun demikian, tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah semakin naik.
Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai mengungkapkan, bahwa minat baca perlu terus didorong. Dinas Pendidikan Jatim bahkan siap berkolaborasi dengan Disperpusip Jatim untuk memetakan kawasan minim literasi mengacu pada data yang tersedia.
"Dengan data yang ada, kita ingin ada kolaborasi bersama untuk memetakan daerah mana saja yang literasinya masih belum mencapai angka yang maksimal," kata Aries saat menghadiri pembukaan Big Bad Wolf (BBW) 2026 di Tunjungan Plaza Surabaya, Kamis (29/1/2026).
Kolaborasi tersebut bertujuan untuk merumuskan intervensi dalam menguatkan budaya membaca dan literasi. Terutama bagi dunia pendidikan di Jatim.
"Kita ingin berkolaborasi apa yang harus kita intervensi supaya nanti kita bisa sama-sama memberikan angka yang positif apakah bagi masyarakatnya, dunia pendidikannya, nah harus ada pemetaan bersama. Kalau tidak ada pemetaan, agak sulit kita menerka mana saja yang masih butuh support untuk penguatan literasi," jelas Aries menambahkan.
Di sisi lain, meskipun kenaikan minat baca tidak terlalu signifikan, setidaknya Aries melihat masih ada tren positif peningkatan indeks pembangunan literasi. Penyelenggaraan bazar buku murah juga menjadi salah satu motor penggerak minat baca masyarakat di Jatim.
"Kenaikan minat baca di Jawa Timur tidak cukup signifikan, tetapi naik. Kita berharap bahwa memang harus ada bazar buku seperti Big Bad Wolf," ucapnya.
Aries sendiri tak memungkiri, harga buku bacaan saat ini semakin mahal. Maka dengan bazar buku, diharapkan harga buku yang berkualitas dapat lebih terjangkau oleh masyarakat.
Pameran literasi seperti bazar buku internasional Big Bad Wolf Surabaya 2026 dinilai menjadi ajang tahunan yang sangat bermanfaat. Karena menyediakan diskon dan buku dengan harga miring. Nah, Kota Surabaya sendiri tak pernah absen disambangi tiap tahunnya.
"Kita sangat bersyukur, karena pilihannya tetap di Jawa Timur khususnya Surabaya. Artinya, minat baca dan literasi yang sangat kuat menjadi pilihan dari BBW untuk memilih Jawa Timur," kata Aries. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Dindik Jatim Siap Berkolaborasi Dongkrak Tingkat Kegemaran Membaca
| Pewarta | : Lely Yuana |
| Editor | : Deasy Mayasari |