TIMES SURABAYA, SURABAYA – Kawasan wisata Gunung Bromo kini memiliki destinasi baru bagi para pencinta staycation. Jambuluwuk Resort & Poshtel Bromo secara resmi memperkenalkan konsep akomodasi berkelanjutan di wilayah Tosari, Kabupaten Pasuruan. Destinasi ini tidak sekadar menawarkan tempat menginap, tetapi juga memadukan kemewahan hotel bintang lima dengan kearifan lokal Suku Tengger yang kental.
Pembangunan proyek ambisius di atas lahan seluas dua hektare ini telah mencapai progres 80 persen, namun antusiasme wisatawan tercatat sangat tinggi.
Periode Februari hingga April telah tersedia pemesanan kamar dari wisatawan mancanegara yang mayoritas berasal dari Asia. Meskipun dijadwalkan rampung sepenuhnya pada Februari 2026, sejumlah fasilitas unggulan sudah dapat dinikmati tamu sejak masa soft opening ini.
Secara konsep, Jambuluwuk menghadirkan dua identitas berbeda dalam satu kawasan. Bagi keluarga atau pelancong yang mengutamakan privasi, tersedia resor dengan tipe kamar Deluxe hingga Family Duplex yang luas.
Sementara itu, bagi wisatawan muda, hadir konsep Poshtel atau luxury hostel yang dilengkapi ruang komunal modern, mulai dari fasilitas biliar, karaoke, hingga arcade game.

Fasilitas pendukung yang disediakan pun sangat lengkap, mencakup kolam renang air hangat indoor, layanan spa, hingga lapangan padel dengan latar hutan pinus yang estetis.
Dari sisi kuliner, Fresto Hillside Restaurant menjadi daya tarik utama dengan menu ikonik Sego Luwuk yang terdiri dari nasi gurih, tumis kerang, dan dendeng sapi.
"Menu tersebut tersedia setiap hari, termasuk sebagai sajian sarapan," kata Chef George Edwin.
Selain aspek kemewahan, nilai utama hotel ini terletak pada komitmen terhadap lingkungan dan sosial. Arsitektur bangunan didominasi material kayu serta dilengkapi aviary terbuka untuk menjaga ekosistem burung lokal.
VP Marketing Jambuluwuk Bromo Resort & Poshtel, Marchella Purwanaika, menegaskan keseriusan pihak hotel dalam memberdayakan masyarakat.
"Jambuluwuk Hotel melibatkan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja. Kami menyerap tenaga kerja lokal dan mendistribusikan informasi lowongan pekerjaan ke desa-desa di Tosari," jelasnya.
Manajemen juga menggandeng petani setempat sebagai pemasok bahan pangan serta rutin menyelenggarakan pasar tradisional bagi para tamu. Selama masa soft opening, tarif kamar dipatok mulai dari Rp600.000 untuk tipe Poshtel dan Rp1.000.000 untuk tipe resor.
Dengan integrasi fasilitas mewah dan dampak sosial yang positif, Jambuluwuk Bromo siap menjadi standar baru bagi wisata alam terpadu di Jawa Timur. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Jambuluwuk Bromo Resort & Poshtel: Kemewahan Bintang Lima dan Kearifan Lokal Tengger
| Pewarta | : Zisti Shinta Maharani |
| Editor | : Deasy Mayasari |